Fakta Menakjubkan Dibalik Air Kencing Bayi Laki-Laki Dan Perempuan
“Air kencing bayi laki-laki (dibersihkan dengan) disiram/diperciki air dan air kencing bayi perempuan dicuci . ” Qatadah rahimahullah b...
https://randysofyanshare.blogspot.com/2013/05/fakta-menakjubkan-dibalik-air-kencing.html
“Air kencing bayi laki-laki (dibersihkan dengan) disiram/diperciki air dan air kencing bayi perempuan dicuci.” Qatadah rahimahullah berkata:” Ini kalau keduanya belum memakan makanan, sedangkan jika sudah memakan makanan maka dicuci air kencing dari keduanya.” (HR. Ahmad dalam Musnad beliau no. 563, dan sanadnya dinyatakan shahih oleh Syu’aib al-Arna’uth dalam Ta’liq beliau terhadap al-Musnad).
ISLAM telah merinci dengan perincian yang sangat rinci dalam masalah najis.Karena sesungguhnya najis adalah tempat-tempat di mana di dalamnya terdapat banyak sumber penyakit.
Dalam Islam pembersihan/penyucian pun bermacam-macam. Hal itu tergantung pada jenis najis dan bentuknya.
Diantara
najis-najis ada yang bisa dihilangkan dan dibersihkan dengan mencucinya
dengan air—dan ini kebanyakannya—atau menuangkan air di atasnya. Dan
diantaranya pula ada yang dibersihkan dengan menggosoknya dengan tanah,
atau dengan menghilangkan atau dengan mengubahnya ke zat lain. Dan cara-cara lainnya untuk membersihkan.
Dan Islam membagi najis menjadi dua, yaitu najis mutawasitoh (sedang) dan mukhaffah (ringan). Dan dari pembedaan dan pembagian ini ada yang berkaitan dengan pembedaaan antara air kencing bayi laki-laki—yang hanya mengonsumi ASI saja—dengan air kencing bayi perempuan.
Dan Islam membagi najis menjadi dua, yaitu najis mutawasitoh (sedang) dan mukhaffah (ringan). Dan dari pembedaan dan pembagian ini ada yang berkaitan dengan pembedaaan antara air kencing bayi laki-laki—yang hanya mengonsumi ASI saja—dengan air kencing bayi perempuan.
Islam
menjadikan air kencing bayi laki-laki sebagai bagian dari najis
mukhaffah (ringan) dan cukup dibersihkan dengan percikan air di atasnya,
sementara syari’at menjadikan air kencing bayi wanita sebagai bagian
dari mutawasitoh (sedang) dan tidak sempurna cara
penyucian/pembersihannya kecuali dengan mencuci sisa-sisanya dengan air.
Tentang air
kencing bayi laki-laki dan perempuan, sebuah eksperimen ilmiah modern
telah mengungkap rahasia di balik pembedaan antara air kencing bayi
laki-laki dan bayi perempuan, dan menetapkan bahwasanya di sana ada
perbedaan di antara keduanya.
Penelitian
ilmiah modern –yang dilakukan di bidang ini- mengungkapkan adanya
perbedaan antara urin (air kencing) bayi laki-laki dan bayi perempuan.Dan
salah satu penelitian tersebut adalah penelitian yang dilakukan oleh
Ashil Muhammad Ali dan Ahmad Muhammad Shalih dari Universitas Dohuk,
Irak.Dan kesimpulan penelitian tersebut adalah sebagai berikut:
Telah selesai
proses pengkajian persentase keberadaan bakteri dalam urin/air kencing
bayi dalam masa menyusu dan bayi yang baru lahir, di mana mereka
mengumpulkan sampel urin bayi secara acak yang berjumlah 73 bayi (35
perempuan dan 38 laki-laki). Mereka
mengklasifikasikan/mengelompokkannya ke dalam empat kelompok umur; umur
di bawah satu bulan, umur satu bulan sampai dua bulan, kemudian (dari
dua bulan) sampai tiga bulan dan kemudian lebih dari tiga bulan dengan
kemungkinan meningkatnya konsumsi makanan.
Sampel
dikumpulkan dan diangkut langsung untuk diperiksa secara laboratoris dan
proses terus berlanjut selama beberapa bulan, dengan mempertimbangkan
kemungkinan tingkat maksimum sterilisasi dan menghindari kontaminasi.
Dan kajian tersebut menggunakan metode yang digunakan Dr. Hans
Christian Gram, yang ditemukan pada tahun 1884 dalam pewarnaan bakteri
(metode Gram staining), yang mana warna ungu menunjukkan bakteri Gram
positif dan warna merah untuk negative. Semua
sampel yang diuji dengan memilih bidang bakteri mikroskopis untuk
menghitung jumlah bakteri dengan menggunakan standar pembesaraan 100
kali lipat. Dan ditemukan bahwa semua Gram negatif, dan diklasifikasikan bahwa ia masuk sebagai bakteri Escherichia Coli.
Dan hasilnya adalah sebagai berikut:
Pertama: Pada
kelompok usia nol sampai 30 hari, prosentase keberadaan bakteri dalam
urin bayi perempuan 95,44% lebih banyak dibandingkan pada urin bayi
laki-laki, di mana jumlah bakteri di bidang mikroskopis untuk urin bayi
perempuan mencapai 41,9 sedangkan pada bidang yang sama untuk bayi
laki-laki hanya berjumlah 2 saja.
Kedua: Pada
kelompok umur (dari satu bulan sampai dua bulan) prosentase keberadaan
bakteri dalam urin bayi perempuan 91,48% lebih banyak dibandingkan pada
urin bayi laki-laki, di mana jumlah bakteri di bidang mikroskopis untuk
urin bayi perempuan mencapai 24,1 sementara jumlah dalam bayi laki-laki
hanya 2,25.
Ketiga: Pada
kelompok usia 2-3 bulan, prosentase keberadaan bakteri dalam urin bayi
perempuan 93,69% lebih banyak dibandingkan pada urin bayi laki-laki, di
mana jumlah bakteri di bidang mikroskopis untuk urin bayi perempuan
mencapai 24,1 sementara jumlah pada kasus bayi laki-laki hanya 1,6.
Keempat: Pada
kelompok usia lebih dari 3 bulan, prosentase bakteri dalam urin bayi
perempuan 69% lebih banyak dibandingkan pada urin bayi laki-laki, di
mana jumlah bakteri di bidang mikroskopis untuk urin bayi perempuan 13,9
sementara dalam kasus urin bayi laki-laki jumlahnya 6,8.
Dan di antara
perbandingan di antara jenis yang sama kita cermati bahwa prosentase
jumlah bakteri pada perempuan (urin bayi perempuan) terus menurun dengan
bertambahnya usia, di mana prosentase tersebut pada kelompok usia
kurang dari satu bulan adalah 41,9.
Sedangkan pada
kelompok usia di atas tiga bulan kita cermati bahwa prosentasenya turun
menjadi 13,9 bertolak belakang dengan apa yang diamati pada laki-laki. Di
mana prosentase bakteri dalam kelompok usia kurang dari dua bulan lebih
sedikit dibandingkan dengan jumlah yang ada pada kelompok usia di atas
tiga bulan ( yaitu 6,8).
Dan disimpulkan
dari hal ini bahwa prosentase bakteri pada perempuan adalah tinggi
sejak hari-hari awal usianya, tanpa melihat perkembangan usia dan
terlepas dari apakah ia sudah mulai mengonsumsi makanan atau tidak. Adapun laki-laki maka keberadaan bakteri jauh lebih rendah pada hari-hari pertama usianya.
Dan prosentase
ini mulai meningkat secara bertahap dengan berlalunya waktu, terutama
ketika melewati bulan ketiga dari usianya, yang mana meningkatnya
kemungkinan mulai peningkatan prosentase tersebut dengan mengonsumsi
makanan .
PENELITIAN
lain tentang perbedaan antara urin bayi laki-laki yang masih menyusu
dengan urin bayi perempuan juga dilakukan oleh Dr. Shalahuddin Badr. Dan
kesimpulan penelitian ini adalah sebagai berikut.
Ilmu
pengetahuan pada hari ini menetapkan bahwa urin mengandung bakteri
pathogen dalam jumlah yang besar, yang menyebabkan penularan banyak
jenis penyakit ganas. Di antara bakteri ini adalah:
Bakteri E. coli
(Escherichia Coli), staphylococcus, difteri, bakteri streptokokus,
jamur candida, dan lain-lain. Oleh sebab itu wajib mencuci, membersihkan
tubuh dan pakaian dari urin ini sehingga tidak terkena penyakit yang
disebabkan oleh salah satu dari jenis bakteri pathogen ini.
Ilmu
pengetahuan telah membuktikan bahwa urin anak yang baru lahir adalah
steril, dan tidak ada bakteri jenis apapun di dalamnya, tapi kemudian
setelah itu ia membawa bakteri, dan kebanyakan kontaminasi bakteri
berasal dari saluran pencernaan.
Dan Dr.
Shalahuddin dalam penelitiannya menegaskan bahwa urin bayi laki-laki
yang masih menyusu, yang hanya mengonsumsi ASI saja (susu alami) tidak
mengandung bakteri jenis apapun. Sementara pada bayi perempuan yang
masih menyusu mengandung beberapa jenis bakteri, dan dia mengembalikan
hal ini kepada perbedaan jenis kelamin.
Karena saluran
kencing perempuan lebih pendek daripada saluran pada laki-laki, di
samping sekresi kelenjar prostat yang ada pada laki-laki, yang berperan
untuk membunuh kuman. Oleh karena itu urin bayi laki-laki—yang belum
memakan makanan—tidak mengandung bakteri berbahaya.
Dan sebagai
akibat dari perbedaan anatomi sistem pembuangan urin pada perempuan dan
laki-laki, maka perempuan lebih rentan terhadap kontaminasi bakteri
dibandingkan laki-laki.
Maka suatu hal
yang mudah untuk berpindahnya bakteri ke kandung kemih pada wanita,
terutama bakteri yang berpindah dari ujung sistem pencernaan dan
berhubungan dengan saluran kemih. Dan kebanyakan bakteri tersebut adalah
bakter coliform.
Dan dengan
melihat sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maka terlihat
jelas bahwa urin perempuan mengandung bakteri penyebab infeksi, oleh
karena itu harus dicuci. Hal itu karena struktur anatomi sistem
pembuangan urin, dan kecilnya saluran kemih jika dibandingkan dengan
sistem pada laki-laki.
Ilmu
pengetahuan hari ini telah mengungkap bahwa menyusui bayi dengan selain
ASI, seperti susu formula atau dengan makanan lainnya, baik yang alami
maupun buatan menyebabkan terjadinya kontaminasi urin, dimana ASI
mencegah keberadaan bakteri coliform dalam urinnya.
Dan di sana ada
beberapa jenis sukrosa di dalam ASI yang mencegah menempelnya bakteri
tersebut sel epitel di dalam sistem kemih, yang menyebabkan tidak
terjadinya kontaminasi urin dengan bakteri coliform, dan dengan demikian
urin menjadi steril (Diringkas dari British Medical Journal)
Maka sisi
keajaibannya adalah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah
mengetahui hal tersebut semenjak 14 abad yang lalu, padahal di zaman
beliau shallallahu ‘alaihi wasallam belum ada mikroskop dan alat-alat
penelitian canggih yang lainnya. Ini semakin menguatkan iman kita akan
kebenaran ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan bahwasanya
yang beliau bawa adalah dari Allah Swt.
”
Air kencing bayi laki-laki (dibersihkan dengan) disiram/diperciki air
dan air kencing bayi perempuan dicuci,” Qatadah rahimahullah berkata:”
Ini kalau keduanya belum memakan makanan, sedangkan jika sudah memakan
makanan maka dicuci air kencing dari keduanya,” (HR. Ahmad dalam Musnad
beliau no. 563, dan sanadnya dinyatakan shahih oleh Syu’aib al-Arna’uth
dalam Ta’liq beliau terhadap al-Musnad).




