Islamic Youth Movement!
Remaja , idealnya menjadi harapan bangsa, negara, dan agama. Seiring bertambahnya usia, kelak mereka yang bakal dapat giliran untuk ...
https://randysofyanshare.blogspot.com/2013/05/islamic-youth-movement.html
Remaja ideal sejatinya selalu punya rencana
dalam menjalani hidupnya. Lantaran hidup cuman sekali kudu dioptimalkan
untuk meraih prestasi. Makanya wajar kalo memasuki awal tahun, remaja
antusias bikin resolusi. Sebuah resolusi adalah semacam planning alias
perencanaan untuk mewujudkan mimpi di tahun ini. Saat bikin resolusi,
kita mesti perhatikan dua hal. Pertama, mengevaluasi langkah, peristiwa,
fakta yang telah terjadi di tahun sebelumnya. Kedua, merencanakan atau
memproyeksi apa yang akan terjadi dan dilakukan di tahun depan. Yup,
biar kegambar jelas bagian mana yang mesti diperbaiki dan langkah
strategis apa yang mesti dijalani demi meraih mimpi. Untuk itu, penting
kita evaluasi kondisi remaja sebelum membuat resolusi. Yuk mari!
Potret Buram Remaja 2012
Tahun 2012, dunia remaja masih belepotan tinta hitam yang menambah
buram potret generasi muda. Data Badan Koordinasi Keluarga Berencana
Nasional (BKKBN) menunjukkan, 51 persen remaja di Jakarta, Bogor,
Tangerang, dan Bekasi atau Jabodetabek telah berhubungan seks pranikah.
“Artinya dari 100 remaja, 51 sudah tidak perawan,” kata Kepala BKKBN
Sugiri Syarief usai memberikan sambutan pada acara grand final Kontes
Rap memperingati Hari AIDS sedunia di lapangan parkir IRTI Monas, Ahad (28/11/2012)
Data BKKBN mengenai estimasi aborsi di Indonesia per tahun mencapai
2,4 juta jiwa, sebanyak 800 ribu di antaranya terjadi di kalangan
remaja. “Dari 2,5 jutaan pelaku aborsi tersebut, 1 – 1,5 juta di
antaranya adalah remaja. Remaja sudah bisa aktif secara seksual, namun
sulit memperoleh alat kontrasepsi. Akibatnya terjadi kehamilan yang
tidak diinginkan,” kata Sudibyo Alimoesa, Deputi Bidang Keluarga
Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga (KSPK) BKKBN saat dihubungi detikHealth, Rabu (30/5/2012)
Dari total kasus HIV/AIDS di Indonesia yang dilaporkan pada 1
Januari-30 Juni 2012 tercatat sebanyak 9.883 kasus HIV dan 2.224 kasus
AIDS, dengan 45 persen di antaranya diidap oleh kaum muda. Masalah
narkoba juga nggak kalah hebatnya seperti dikutip detikhealth (6/6/2012), bahwa BNN melansir 50-60% pengguna narkoba adalah remaja.
Tahun 2012 lalu, tawuran pelajar
kembali naik daun pasca perseterua pelajar SMAN 70 dengan SMAN 6 yang
menewaskan Alawi, siswa kelas X SMA 6. Tawuran pelajar seolah menjadi
bagian yang tak terpisahkan dari perilaku pelajar. Meski sudah banyak
jatuh korban, ‘perang
kolosal’ ala pelajar terus terjadi. Data dari Komnas Anak, jumlah
tawuran pelajar sudah memperlihatkan kenaikan pada enam bulan pertama
tahun 2012. Hingga bulan Juni, sudah terjadi 139 tawuran kasus tawuran
di wilayah Jakarta. Sebanyak 12 kasus menyebabkan kematian. Pada 2011,
ada 339 kasus tawuran menyebabkan 82 anak meninggal dunia (Vivanews.com, 28/09/12)
Jika mau diurai lebih detail lagi, masih cukup panjang daftar
kebobrokan dunia remaja selama tahun 2012. Data di atas cukup mewakili
untuk menggedor keprihatinan kita akan nasib calon pemimpin bangsa.
Idealnya, pemerintah selaku instusi tertinggi yang ngurus rakyat
bergerak cepat untuk menyelamatkan generasi muda. Cari deh tuh akar
masalah yang menjerat remaja. Terus segera ambil kebijakan untuk
memangkas akar masalah biar nggak mewabah. Sialnya, pemerintah kita
lebih banyak ngobatin gejala dibanding penyebab utamanya. Walhasil,
potret buram remaja tak kunjung kinclong!
Sekadar contoh, Menteri Kesehatan Nafsiyah Mboi, usai membuka seminar
Peringatan Hari Anak Nasional 2012 di gedung Kementerian Kesehatan,
Jumat (13/7/2012) malah menyarankan ‘pacaran
sehat’ ala Menkes dengan menggunakan kondom. Tidak bermaksud pesimis,
tapi menilik program penanggulangan AIDS selama ini, tidak cukup
berdampak pada jumlah kasus prevalensi dan insidensi AIDS. Kasus AIDS di
Indonesia, trendnya makin meningkat. Data dari Kementerian Kesehatan,
jumlah kumulatif kasus AIDS yang dilaporkan di Indonesia meningkat tajam
dari 7.195 di tahun 2006 menjadi 76.879 di tahun 2011 (Kemkes, Laporan
Situasi HIV dan AIDS di Indonesia, tahun 2006 dan 2011).
Kondomisasi cuma sebuah solusi pragmatis yang sangat menyesatkan.
Pasalnya, kondomisasi bukan menghilangkan akar masalah sesungguhnya,
yakni seks bebas yang kian beringas di kalangan remaja. Sebaliknya,
kondomisasi makin menambah masalah, karena secara tidak langsung
melegalisasi seks bebas. Bukannya mengantisipasi, malah memfasilitasi.
Akibatnya, kampanye kondom berpotensi menguatkan gaya hidup seks bebas.
Hal ini pernah diungkapkan oleh Mark Schuster dari Rand, sebuah lembaga
penelitian nirlaba, dan seorang pediatri di University of California.
Berdasarkan penelitian mereka, setelah kampanye kondomisasi, aktivitas
seks bebas di kalangan pelajar pria meningkat dari 37% menjadi 50% dan
di kalangan pelajar wanita meningkat dari 27% menjadi 32% (USA Today, 14/4/1998).
Harapan Itu Masih Ada
Ketika potret dunia remaja kian hari memburam, masih ada secercah
harapan dari potensi remaja yang belum dioptimalkan. Pertama: potensi
‘alami’ yang dimiliki oleh remaja sebagai pribadi yang energik, letupan semangat
yang berapi-api, intelektualitas muda yang bisa diandalkan, serta
kekuatan fisik yang masih prima. Kedua: adanya pergerakan dari remaja muslim
yang mencerminkan perlawanan terhadap dominasi pemikiran dan budaya
sekuler. Juga gaung kebangkitan yang gencar disuarakan dalam bentuk
kegiatan nyata serta opini di dunia maya.
Dalam catatan kaleidoskop 2012, masih cukup hangat dalam ingatan kita tentang isu ‘rohis sarang teroris’
yang diopinikan oleh salah satu stasiun teve swasta. Tak ayal, serentak
semangat pembelaan untuk melawan opini itu bermunculan dari aktivis
Rohis sampai alumni Rohis. Hingga terwujud dalam aksi damai pada hari
Minggu (23/9) yang diikuti oleh sekitar 2 ribu pelajar dari berbagai sekolah
tumpuk di Bundaran Hotel Indonesia. Mereka menuntut agar Metro TV
meminta maaf. Hal senada juga muncul dalam galang opini via page
facebook bertajuk “1.000.000 Gerakan Tuntut Metro Tv Minta Maaf Kpd Rohis Se-Indonesi”.
Perlawanan terhadap ide-ide sesat dan menyesatkan dari kaum Jaringan
Islam Liberal (JIL) gencar disuarakan generasi muda muslim dalam tagline
“Indonesia Tanpa JIL (ITJ)”. Opini dengan cepat menyebar melalui sosial
media. Page ITJ dipadati facebooker yang mendukung perlawanan terhadap
celoteh Ulil Abshar dan konco-konconya. Bahkan pergerakan ITJ secara
massif ditunjukkan dengan aksi sebar flye yang berisi alasan menolak JIL
di berbagai kota dan tempat.
Tanggal 14 Februari 2012 lalu muncul pergerakan kampanye
#MenutupAuratSedunia di berbagai negara. Mulai dari Indonesia, Malaysia,
Inggris,
Hongkong, Macau, dan Thailand. Gerakan Menutup Aurat (GERAK) dicetuskan
oleh sahabat aktivis Jakarta yang diketuai Herry Nurdi (Penulis/PresidenTeachers
Working Group Indonesia). Gerakan ini mendapat sambutan hangat dari
remaji untuk menunjukkan eksistensinya dibalik hijab syar’I dengan
mengadakan aksi turun ke jalan dan kajian Islam.
Fakta lain yang tak kalah menggembirakan adalah pergerakan remaja
yang berkomitmen untuk berjuang membela Islam serta penerapan syariah
sebagai sebuah sistem aturan negara. Setidaknya itu terwakili oleh acara yang diprakarsai oleh Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) dalam bentuk Konferensi Remaja Islam di berbagai kota dan puncaknya diadakan di Jakarta.
Yel – yel “Al-Fatayuriid Khilafah Islamiyah” bergemuruh
dalam acara Konferensi Remaja Islam yang berlangsung Ahad (16/12/2012).
Acara yang bertajuk “Khilafah, Negara yang Melindungi dan
Menyejahterakan Remaja” tersebut dihadiri lebih dari 1500 siswi
muslimah dari SMP – SMA se-Jabodetabek dan Banten. Dalam acara tersebut,
para oratornya terdiri dari par remaja, sebut saja Khonsa RD, siswi
kelas X berorasi tentang remaja dalam budaya yang merusak dalam bahasa
Inggris, kemudian Azkia Rizka, siswi kelas XI berorasi tentang Remaja
dalam Pendidikan Sekuler yang BerorientasI Ekonomi.
Kegiatan ini menjadi momentum bersatunya semangat para remaja untuk
memperjuangkan Islam. Remaja harus menyadari bahwa mereka adalah
generasi penerus umat yang agung. Oleh karena itu, remaja harus
terlibat dalam perjuangan menegakkan kembali Khilafah. Menjadikan hidup
bergairah hanya dengan dakwah. Yess!
Dakwah, Resolusi Remaja 2013!
Resolusi sejatinya nggak cuman untuk diri sendiri. Tapi dijadikan
gerakan bersama kebangkitan remaja. Yup, gerakan resolusi remaja muslim.
Biar gaungnya lebih terasa dan beban yang berat bisa ditanggung
bersama-sama. Karena kita sadar sepenuh hari, kita hidup sebagai seorang
muslim yang menjadi bagian dari masyarakat. Maka sangatlah layak, kalo
Resolusi harus bernafaskan ‘KITA’ dan beraroma ‘kebermanfaatan’. Why?
Coz, Rasulullah Saw sudah mengingatkan:
“Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia” (HR. Thabarani, Daruqutni)
“Barangsiapa bangun di waktu subuh (pagi), tidak memikirkan
masalah kaum muslimin, maka dia bukan termasuk golongan kaum muslimin” (HR. Ahmad)
Resolusi bernafaskan ‘KITA’ adalah saatnya kita tidak hanya berpikir
nafsi-nafsi, saatnya meninggalkan sikap dan sifat cuek. Stop berpikir “ini urusan gue, masalah buat loe?”,
sebab pemikiran gitu hanya melahirkan manusia-manusia individualis,
yang merupakan karakter masyarakat kapitalis kita sekarang ini. Dan
nyadar atau nggak, masyarakat individualis, nggak ada nyetelnya dengan
karakter kaum muslimin.
Resolusi beraroma ‘kebermanfaatan’ berarti keberadaan kita di tengah
masyarakat, jangan malah bikin ulah bin masalah, tapi justru keberadaan
kita harus memberi energi positif. Jadi bagian dari solusi, bukan bagian
dari masalah. Saatnya kita bergerak menggandeng tangan saudara kita
yang lain untuk berbuat al-khair (kebaikan).
Dua rumus sederhana di atas (Kita dan Kebermanfaatan) akan terlihat
nyata saat kita wujudkan dalam aktivitas full manfaat bin berkah yang
disebut dengan dakwah. Ya, dakwah selain sebagai sebuah kewajiban yang
harus dijalankan oleh seorang muslim, dakwah juga merupakan kebutuhan
kita semua, tak bisa dibayangkan jika hidup tanpa dakwah, hanya memanen
masalah!
Dakwah jualah sebagai bukti kepedulian kita terhadap sesama, karena
di dalam dakwah ada aktivitas saling menasehati dalam kebaikan. Maka
jika menginginkan kebaikan di masa datang, jika kita sedang menyusun
resolusi, maka dakwah adalah jalan yang harus kita agendakan.
Dakwah akan lebih optimal jika dibangun tidak hanya bermodalkan
semangat. Tapi dakwah yang bercermin pada dakwah Rasulullah Saw ketika
beliau membangkitkan masyarakat. Beliau berdakwah secara fikriyah alias
berdakwah secara pemikiran, menyerang pemikiran-pemikiran yang
bertentangan dengan Islam, seraya menyodorkan pemikiran-pemikiran Islam.
Mulai dari akidah, muamalah, syariah, akhlak, hingga daulah (negara).
Dakwah tersebut dilakukan tanpa kekerasan, meskipun untuk
mendakwahkannya butuh kegigihan, kesabaran.
Klop dengan kondisi saat ini, ketika banyak remaja tak bisa
menunjukkan tajinya, saatnya remaja memilih untuk bangkit membingkai
masa depan bersama Islam melalui jalan dakwah. Teman-teman kita, seperti
sudah disebutkan tadi, sudah ada yang berani memilih berkomitmen
memperjuangkan Islam dan syariahnya, maka kita hanya tinggal menyusulkan
diri di barisan berikutnya. Sebab, pilihan hidup bersama
kapitalisme-sekularisme, seperti saat sekarang ini, tak kunjung
menyudahi masalah remaja dan masalah-masalah lainnya. Pilihan yang
terbaik jika menginginkan masa depan yang lebih baik adalah hanya dengan
Islam.
Sumber :




