Menghancurkan Umat Muslim Dengan Tuduhan Tidak Toleran
S etiap hari Muslim otak dan pikirannya dihancurkan dengan tuduhan sebagai golongan yang tidak toleran. Otak dan pikiran Muslim dicuci. ...
https://randysofyanshare.blogspot.com/2012/06/menghancurkan-umat-muslim-dengan.html
Setiap
hari Muslim otak dan pikirannya dihancurkan dengan tuduhan sebagai
golongan yang tidak toleran. Otak dan pikiran Muslim dicuci. Muslim di
Indonesia selalu dituduh eksklusif, ekstrimis, militan, fundamentalis,
dan anti pluralisme.
Sebuah
agama baru yang sekarang dibangun di Indonesia oleh berbagi kalangan,
yang tujuannya ingin melumpuhkan Muslim, dan tidak lagi memiliki “sajaah” dan “ghirah”.
Sekarang, banyak kalangan Muslim, yang kemudian memiliki rasa takut,
dan tidak berani menyatakan identitasnya sebagai Muslim.
Padahal,
membandingkan Muslim dengan umat lainnya, yang minoritas, memiliki
hak-hak sama, seperti Muslim. Tidak ada yang dibeda-bedakan. Bahkan,
mereka kalangan minoritas di Indonesia, berperan dan memiliki peranan
yang lebih penting dan besar dibandingkan dengan Muslim. Tetapi, mereka
kaum minoritas di Indonesia, masih menuduh Muslim tidak toleran.
Belakangan
mereka bukan hanya menuduh Muslim tidak toleran, tetapi mereka sudah
berani melaporkan Indonesia, yang dituduh melakukan pelanggaran
terhadap hak-hak asasi manusia kepada Komisi HAM PBB.
Di
Indonesia berdasarkan undang-undang, ada 6 agama yang diakui
pemerintah, yaitu Islam, Kristen,Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu.
Mereka tidak ada yang dibatasi dalam menjalankan kehidupan keagamaan
yang mereka yakini.
Pemerintah
Indonesia menentapkan hari libur nasional, saat berlangsungnya
perayaan agama-agama yang ada di Indonesia. Kristen, Katolik, Hindu,
Budha, dan Konghucu, diberikan hari libur nasional. Tidak ada yang
dibatasi.
Bandingkan
dengan negara Barat yang selama ini mengklaim menjunjung tinggi HAM,
bagaimana perlakuan mereka terhadap minoritas Muslim?
Di
Perancis negeri yang jumlah Muslimnya hampir mencapai 10 persen dari
jumlah penduduknya yang berjumlah 80 jutajiwa. Apakah ada hari libur
nasionaldi Perancis saat Idul Fitri?
Di
Perancis rasialisme dan diskriminasi, berlangsung sangat keras.
Perempuan tidak boleh menggunakan jilbab dan niqab (cadar). Muslim di
Perancis tidak boleh membangun menara masjid. Aktifitas mereka dibatasi
dengan sangat ketat. Pendidikan,ekonomi,sosial, dankebudayaan.
Masyarakat Muslim dipandang sebagai ancaman, dan mereka terus
mendapatkan diskriminasi.
Di
Belanda, Muslim dikeja-kejar oleh Geerd Wilders seperti binatang, dan
menyerukan pengusiran bagi warga Muslim, yang ada di negeri itu.
Partai Kebebasan yang merupakan sayap kanan, dipimpin Geerds Wilder,
menyerukan pengusiran Muslim dari daratan Eropa, tanpa henti. Sehingga,
sekarang agenda anti imigran, dan anti Muslim, menjadi agenda utama
sayap kanan di Eropa.
Bayangkan
Breivik, yang melakukan pembantaian massal di Swedia, dan sebagian
yang menjadi korban pemuda-pemuda Muslim, yang ikut berkemah bersama
dengan pemuda-pemuda lainnya. Breivik yang sangat ultra nasional,
memandang imigran dan Muslim menjadi ancaman.
Bandingkan
dengan Barat dan Eropa yang sudah menjajah ratusan tahun dunia Islam,
dan merampok kekayaan negeri-negeri Muslim, dan terus membunuhi
penduduk Muslim, sampai hari ini tidak ada yang menuduh mereka sebagai
tidak toleran.
Belanda
menjajah Indonesia selama 350 tahun, membunuhi rakyatnya, merampok
kekayaan alamnya, menanamkan kekafiran, dan berlangsung sampai
sekarang. Tetapi, adakah yang mengatakan Belanda tidak toleran.
Perancis
dan Itali menjajah negara-negara Afrika Utara, betapa dengan sangat
biadabnya, membunuhi rakyat dikawasan itu, merampas kekayaan alamnya
sampai hari ini. Mereka bukan hanya memperbudak penduduk, merampas
kekayaan alam, tetapi memaksa penduduknya menerima kekafiran dan
kemusyrikan. Rakyat dipaksa memeluk agama Katolik. Di mana toleransi
mereka itu?
Bagaimana
pemimpin agama Katolik di benua Eropa, membersihkan umat Islam dari
daratan Eropa? Umat Islam ditangkap hidup-hidup oleh para penguasa
Katolik dan Kristen, kemudian mereka dihukum mati, dibakar, dan
dipotong dengan golloutine, yang sangat menyeramkan. Masjid-masjid
dihancurkan. Sebagian djadikan gereja dan tempat maksiat.
Kisah
yang paling menyeramkan, bagaimana ketika Romawi, berhasil menguasai
Yerusalem, di mana berlangsung pembantaian besar-besaran terhadap
penduduknya. Sampai digambarkan darah menggenang diatas matakaki.
Karena begitu banyak pembantaian yang dilakukan oleh pasukan Romawi.
Sangat berbeda dengan Umar bin Khattab, ketika memasuki Yeruselam,
berlangsung dengan damai, tidak ada kekejaman di kota itu.
Apakah
di Amerika Serikat, kaum Muslimin diberikan hak sama, seperti
mayoritas Krsiten di negeri itu? Tidak ada hari libur nasional bagi
wargaMuslim, saat mereka akan merayakan hari libur. Tidak ada hari libu
saat umat Islam, merayakan Idul Fitri. Muslim di Amerika harus
mengambil cuti saat mereka harus libur.
Di
Amerika Serikat, yang “menuhankan” kebebasan, tetapi tidak memberikan
kebebasan kepada Muslim. Muslim di Amerika sebagai minoritas tetap
saja dibatasi hak-hak mereka. Apalagi, sesudah perisitwa 11 September.
Kehidupan Muslim di Amerika dibawah pengawasan pemerintah secara
ketat. Bahkan, telpon yang mereka gunakan selalu disadap. Masjid-masjid
di awasi dengan sangat ketat aktifitasnya mereka.
Di
Bali, saat golongan Hindu, merayakan hari raya Nyepi, tanpa kecuali,
umat Islam, dilarang melakukan aktifitas apapun, dan melarang
rumah-rumah Muslim,menyalakan lampu, dan melakukan aktifitas apapun.
Di
Bali, warga Muslim, tidak boleh menggunakan pengeras suara, sebagai
panggilan shalat. Begitulah golongan Hindu Bali, membatasi umat Islam
di Bali. Adakah yang mengatakan golongan Hindu tidak toleran?
Adakah
golongan Hindu di pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi, yang harus dipaksa
mengikuti upacara hari-hari besar Muslim? Mereka bebas sebebasnya
melakukan apa saja yang mereka ingin.Tidak ada yang dibatasi.
Di
Cina Muslim Uighur, ditembaki saat mereka melangsungkan shalat, dan
sekolah al-Qur’an dihancurkan oleh pasukan pemerintah. Mereka melarang
aktitifitas warga Muslim, yang melaksakanan perintah agamanya.
Di
Indonesia, orang-orang China bebas-sebebasnya melakukan kegiatan apa
saja. Mereka menguasai seluruh sektor ekonomi,tidak ada yang
mempersoalkannya. Hari raya Konghucu, mereka menyelenggarakan upara
keagamaan dengan Barongsai. Tak ada yang melarang. Apakah masih kurang
toleran Muslim di Indonesia?
Memang,
sejak zamannya Menteri Agama Mukthi Ali, sejumlah dosen IAIN, dikirim
ke Barat, ke Chicago, Canada, Australia, dan Inggris, serta Belanda,
dan kini mereka menjadi agen kaum kafir dan musyrik, dan melakukan
tuduhan terhadap Muslim sebagai golongan yang tidak toleran dan
ekslusif. Mereka inilah yang getol bersama dengan kafir-musyrik,
mengkampanyekan Muslim itu, sebagai tidak toleran.
Maka, tak heran sesudah puluhan tahun, usaha-usaha melumpuhkan aqidah dan keyakinan Muslim, sekarang muncul generasi “bebek”, yang hanya menjadi pengikut, dan tidak berani lagi menegakkan Islam, sebagai sistem kehidupan.
Sebuah
peristiwa yang sangat dramatis dalam sejarah, di mana di awal
kemerdekaan, saat menyusun UUD (undang-undang dasar), sebagai
konstitusi, golongan Islam ingin memasukkan “tujuh kata”
(kewajiban menjalankan syariah Islam bagi pemeluk-pemeluknya), tetapi
kata-kata itu ditolak oleh golongan Kristen, yang diwakili AA.Maramis,
dan bahkan mengancam akan memisahkan diri dari Republik. Itulah tabiat
orang kafir-musyrik. Padahal, kewajiban menjalankan syariah Islam itu,
tidak diperuntukkan bagi mereka.




