Indahnya Cinta Karena Allah
“Tidaklah seseorang diantara kalian dikatakan beriman, hingga dia mencintai sesuatu bagi saudaranya sebagaimana dia mencintai sesua...
https://randysofyanshare.blogspot.com/2012/06/indahnya-cinta-karena-allah.html
Secara nalar
pecinta dunia, bagaimana mungkin kita mengutamakan orang lain
dibandingkan diri kita? Secara hawa nafsu manusia, bagaimana mungkin
kita memberikan sesuatu yang kita cintai kepada saudara kita?
Pertanyaan
tersebut dapat terjawab melalui penjelasan Ibnu Daqiiqil ‘Ied dalam
syarah beliau terhadap hadits diatas (selengkapnya, lihat di Syarah Hadits Arba’in An-Nawawiyah).
(“Tidaklah seseorang beriman” maksudnya adalah -pen). Para ulama berkata, “yakni
tidak beriman dengan keimanan yang sempurna, sebab jika tidak, keimanan
secara asal tidak didapatkan seseorang kecuali dengan sifat ini.”
Maksud dari kata “sesuatu bagi saudaranya” adalah berupa ketaatan, dan sesuatu yang halal. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh An-Nasa’i.
“…hingga dia mencintai bagi saudaranya berupa kebaikan sebagaimana dia mencintai jika hal itu terjadi bagi dirinya.”
Syaikh Abu Amru Ibnu Shalah berkata, “Hal
ini terkadang dianggap sebagai sesuatu yang sulit dan mustahil, padahal
tidaklah demikian, karena makna hadits ini adalah tidak sempurna iman
seseorang diantara kalian sehingga dia mencintai bagi keislaman
saudaranya sebagaimana dia mencintai bagi dirinya. Menegakkan urusan ini
tidak dapat direalisasikan dengan cara menyukai jika saudaranya
mendapatkan apa yang dia dapatkan, sehingga dia tidak turut berdesakan
dengan saudaranya dalam merasakan nikmat tersebut dan tidak mengurangi
kenikmatan yang diperolehnya. Itu mudah dan dekat dengan hati yang
selamat, sedangkan itu sulit terjadi pada hati yang rusak, semoga Allah
Ta’ala memaafkan kita dan saudara-saudara kita seluruhnya.”
Abu Zinad berkata, “Sekilas
hadits ini menunjukkan tuntutan persamaan (dalam memperlakukan dirinya
dan saudaranya), namun pada hakekatnya ada tafdhil (kecenderungan untuk
memperlakukan lebih), karena manusia ingin jika dia menjadi orang yang
paling utama, maka jika dia menyukai saudaranya seperti dirinya sebagai
konsekuensinya adalah dia akan menjadi orang yang kalah dalam hal
keutamaannya. Bukankah anda melihat bahwa manusia menyukai agar haknya
terpenuhi dan kezhaliman atas dirinya dibalas? Maka letak kesempurnaan
imannya adalah ketika dia memiliki tanggungan atau ada hak saudaranya
atas dirinya maka dia bersegera untuk mengembalikannya secara adil
sekalipun dia merasa berat.”
Diantara ulama
berkata tentang hadits ini, bahwa seorang mukmin satu dengan yang lain
itu ibarat satu jiwa, maka sudah sepantasnya dia mencintai untuk
saudaranya sebagaimana mencintai untuk dirinya karena keduanya laksana
satu jiwa sebagaimana disebutkan dalam hadits yang lain:
“Orang-orang
mukmin itu ibarat satu jasad, apabila satu anggota badan sakit, maka
seluruh jasad turut merasakan sakit dengan demam dan tidak dapat tidur.” (HR. Muslim)
“Saudara” yang dimaksud dalam hadits tersebut bukan hanya saudara kandung atau akibat adanya kesamaan nasab/ keturunan darah, tetapi “saudara” dalam
artian yang lebih luas lagi. Dalam Bahasa Arab, saudara kandung disebut
dengan Asy-Asyaqiiq ( الشَّّقِيْقُ). Sering kita jumpa seseorang
menyebut temannya yang juga beragama Islam sebagai “Ukhti fillah” (saudara
wanita ku di jalan Allah). Berarti, kebaikan yang kita berikan tersebut
berlaku bagi seluruh kaum muslimin, karena sesungguhnya kaum muslim itu
bersaudara.
Jika ada yang bertanya, “Bagaimana
mungkin kita menerapkan hal ini sekarang? Sekarang kan jaman susah.
Mengurus diri sendiri saja sudah susah, bagaimana mungkin mau
mengutamakan orang lain?”
Wahai saudariku
-semoga Allah senantiasa menetapkan hati kita diatas keimanan-, jadilah
seorang mukmin yang kuat! Sesungguhnya mukmin yang kuat lebih dicintai
Allah. Seberat apapun kesulitan yang kita hadapi sekarang, ketahuilah
bahwa kehidupan kaum muslimin saat awal dakwah Islam oleh Rasulullah
jauh lebih sulit lagi. Namun kecintaan mereka terhadap Allah dan
Rasul-Nya jauh melebihi kesedihan mereka pada kesulitan hidup yang hanya
sementara di dunia. Dengarkanlah pujian Allah terhadap mereka dalam
Surat Al-Hasyr:
“(Juga)
bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan
dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan
keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah
orang-orang yang benar(ash-shodiquun). Dan orang-orang yang telah
menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan)
mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah
kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan
dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka
(Muhajirin). Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri
mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang
dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang
beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 8-9)
Dalam ayat
tersebut Allah memuji kaum Muhajirin yang berhijrah dari Makkah ke
Madinah untuk memperoleh kebebasan dalam mewujudkan syahadat mereka an laa ilaha illallah wa anna muhammadan rasulullah.
Mereka meninggalkan kampung halaman yang mereka cintai dan harta yang
telah mereka kumpulkan dengan jerih payah. Semua demi Allah! Maka, kaum
muhajirin (orang yang berhijrah) itu pun mendapatkan pujian dari Allah
Rabbul ‘alamin. Demikian pula kaum Anshar yang memang merupakan penduduk
Madinah. Saudariku fillah, perhatikanlah dengan seksama
bagaimana Allah mengajarkan kepada kita keutamaan orang-orang yang
mengutamakan saudara mereka. Betapa mengagumkan sikap itsar (mengutamakan orang lain) mereka. Dalam surat Al-Hasyr tersebur, Allah memuji kaum Anshar sebagai Al-Muflihun (orang-orang
yang beruntung di dunia dan di akhirat) karena kecintaan kaum Anshar
terhadap kaum Muhajirin, dan mereka mengutamakan kaum Muhajirin atas
diri mereka sendiri, sekalipun mereka (kaum Anshar) sebenarnya juga
sedang berada dalam kesulitan. Allah Ta’aala memuji orang-orang yang
dipelihara Allah Ta’aala dari kekikiran dirinya sebagai orang-orang yang
beruntung. Tidaklah yang demikian itu dilakukan oleh kaum Anshar
melainkan karena keimanan mereka yang benar-benar tulus, yaitu keimanan
kepada Dzat yang telah menciptakan manusia dari tanah liat kemudian
menyempurnakan bentuk tubuhnya dan Dia lah Dzat yang memberikan rezeki
kepada siapapun yang dikehendaki oleh-Nya serta menghalangi rezeki
kepada siapapun yang Dia kehendaki.
Tapi, ingatlah wahai saudariku fillah, jangan sampai kita tergelincir oleh tipu daya syaithon ketika mereka membisikkan ke dada kita “utamakanlah saudaramu dalam segala hal, bahkan bila agama mu yang menjadi taruhannya.” Saudariku fillah,
hendaklah seseorang berjuang untuk memberikan yang terbaik bagi
agamanya. Misalkan seorang laki-laki datang untuk sholat ke masjid, dia
pun langsung mengambil tempat di shaf paling belakang, sedangkan di shaf
depan masih ada tempat kosong, lalu dia berdalih “Aku memberikan tempat kosong itu bagi saudaraku yang lain. Cukuplah aku di shaf belakang.” Ketahuilah,
itu adalah tipu daya syaithon! Hendaklah kita senantiasa berlomba-lomba
dalam kebaikan agama kita. Allah Ta’ala berfirman:
“Maka
berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada
pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat).
Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqoroh: 148)
Berlomba-lombalah
dalam membuat kebaikan agama, bukan dalam urusan dunia. Banyak orang
yang berdalih dengan ayat ini untuk menyibukkan diri mereka dengan
melulu urusan dunia, sehingga untuk belajar tentang makna syahadat saja
mereka sudah tidak lagi memiliki waktu sama sekali. Wal iyadzu billah. Semoga Allah menjaga diri kita agar tidak menjadi orang yang seperti itu.
Wujudkanlah Kecintaan Kepada Saudaramu Karena Allah
Mari kita
bersama mengurai, apa contoh sederhana yang bisa kita lakukan
sehari-hari sebagai bukti mencintai sesuatu bagi saudara kita yang juga
kita cintai bagi diri kita…
Mengucapkan Salam dan Menjawab Salam Ketika Bertemu
“Kalian
tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak akan
beriman sampai kalian saling mencintai. Tidak maukah kalian aku
tunjukkan sesuatu yang jika kalian lakukan maka kalian akan saling
mencintai: Sebarkanlah salam diantara kalian.”(HR. Muslim)
Pada hakekatnya ucapan salam merupakan do’a dari seseorang bagi orang lain. Di dalam lafadz salam “Assalaamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakaatuh” terdapat
wujud kecintaan seorang muslim pada muslim yang lain. Yaitu
keinginannya agar orang yang disapanya dengan salam, bisa memperoleh
keselamatan, rahmat, dan barokah. Barokah artinya tetapnya suatu
kebaikan dan bertambah banyaknya dia. Tentunya seseorang senang bila ada
orang yang mendo’akan keselamatan, rahmat, dan barokah bagi dirinya.
Semoga Allah mengabulkan do’a tersebut. Saudariku fillah,
bayangkanlah! Betapa banyak kebahagiaan yang kita bagikan kepada saudara
kita sesama muslim bila setiap bertemu dengan muslimah lain -baik yang
kita kenal maupun tidak kita kenal- kita senantiasa menyapa mereka
dengan salam. Bukankah kita pun ingin bila kita memperoleh banyak do’a
yang demikian?! Namun, sangat baik jika seorang wanita muslimah tidak
mengucapkan salam kepada laki-laki yang bukan mahromnya jika dia takut
akan terjadi fitnah. Maka, bila di jalan kita bertemu dengan muslimah
yang tidak kita kenal namun dia berkerudung dan kita yakin bahwa
kerudung itu adalah ciri bahwa dia adalah seorang muslimah, ucapkanlah
salam kepadanya. Semoga dengan hal sederhana ini, kita bisa menyebar
kecintaan kepada sesama saudara muslimah. Insya Allah…
Bertutur Kata yang Menyenangkan dan Bermanfaat
Dalam sehari
bisa kita hitung berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk sekedar
berkumpul-kumpul dan ngobrol dengan teman. Seringkali obrolan kita
mengarah kepada ghibah/menggunjing/bergosip. Betapa meruginya kita.
Seandainya, waktu ngobrol tersebut kita gunakan untuk membicarakan
hal-hal yang setidaknya lebih bermanfaat, tentunya kita tidak akan
menyesal. Misalnya, sembari makan siang bersama teman kita bercerita, “Tadi
shubuh saya shalat berjamaah dengan teman kost. Saya yang jadi makmum.
Teman saya yang jadi imam itu, membaca surat Al-Insan. Katanya sih itu
sunnah. Memangnya apa sih sunnah itu?” Teman yang lain menjawab, “Sunnah
yang dimaksud teman anti itu maksudnya ajaran Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam. Memang disunnahkan untuk membaca Surat Al-Insan di
rakaat kedua shalat shubuh di hari Jum’at.” Lalu, teman yang bertanya tadi pun berkata, “Ooo… begitu, saya kok baru tahu ya…” Subhanallah! Sebuah
makan siang yang berubah menjadi “majelis ilmu”, ladang pahala, dan
ajang saling memberi nasehat dan kebaikan pada saudara sesama muslimah.
Mengajak Saudara Kita Untuk Bersama-Sama Menghadiri Majelis ‘Ilmu
Dari obrolan singkat di atas, bisa saja kemudian berlanjut, “Ngomong-ngomong, kamu tahu darimana kalau membaca surat Al-Insan di rakaat kedua shalat shubuh di hari Jum’at itu sunnah?” Temannya pun menjawab, “Saya tahu itu dari kajian.” Alhamdulillahbila ternyata temannya itu tertarik untuk mengikuti kajian, “Kalau saya ikut boleh nggak? Kayaknya menyenangkan juga ya ikut kajian.” Temannya pun berkata, “Alhamdulillah, insyaAllah kita bisa berangkat sama-sama. Nanti saya jemput anti di kost.”
Saling Menasehati, Baik Dengan Ucapan Lisan Maupun Tulisan
Suatu saat ‘Umar radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya tentang aibnya kepada shahabat yang lain. Shahabat itu pun menjawab bahwa dia pernah mendengar bahwa ‘Umarradhiyallahu ‘anhu memiliki bermacam-macam lauk di meja makannya. Lalu ‘Umarradhiyallahu ‘anhu pun berkata yang maknanya ‘Seorang
teman sejati bukanlah yang banyak memujimu, tetapi yang memperlihatkan
kepadamu aib mu (agar orang yang dinasehati bisa memperbaiki aib
tersebut. Yang perlu diingat, menasehati jangan dilakukan didepan orang
banyak. Agar kita tidak tergolong ke dalam orang yang menyebar aib orang
lain. Terdapat beberapa perincian dalam masalah ini -pen).’ Bentuk
nasehat tersebut, bukan hanya secara lisan tetapi bisa juga melalui
tulisan, baik surat, artikel, catatan saduran dari kitab-kitab ulama,
dan lain-lain.
Saling Mengingatkan Tentang Kematian, Yaumil Hisab, At-Taghaabun (Hari Ditampakkannya Kesalahan-Kesalahan), Surga, dan Neraka
Sangat banyak
orang yang baru ingin bertaubat bila nyawa telah nyaris terputus. Maka,
diantara bentuk kecintaan seorang muslim kepada saudaranya adalah saling
mengingatkan tentang kematian. Ketika saudaranya hendak berbuat
kesalahan, ingatkanlah bahwa kita tidak pernah mengetahui kapan kita
mati. Dan kita pasti tidak ingin bila kita mati dalam keadaan berbuat
dosa kepada Allah Ta’ala.
Saudariku fillah,
berbaik sangkalah kepada saudari muslimah mu yang lain bila dia
menasehati mu, memberimu tulisan-tulisan tentang ilmu agama, atau
mengajakmu mengikuti kajian. Berbaik sangkalah bahwa dia sangat
menginginkan kebaikan bagimu. Sebagaimana dia pun menginginkan yang
demikian bagi dirinya. Karena, siapakah gerangan orang yang senang
terjerumus pada kubangan kesalahan dan tidak ada yang mengulurkan tangan
padanya untuk menariknya dari kubangan yang kotor itu? Tentunya kita
akan bersedih bila kita terjatuh di lubang yang kotor dan orang-orang di
sekeliling kita hanya melihat tanpa menolong kita…
Tidak ada
ruginya bila kita banyak mengutamakan saudara kita. Selama kita berusaha
ikhlash, balasan terbaik di sisi Allah Ta’ala menanti kita. Janganlah
risau karena bisikan-bisikan yang mengajak kita untuk “ingin menang sendiri, ingin terkenal sendiri”. Wahai saudariku fillah,
manusia akan mati! Semua makhluk Allah akan mati dan kembali kepada
Allah!! Sedangkan Allah adalah Dzat Yang Maha Kekal. Maka, melakukan
sesuatu untuk Dzat Yang Maha Kekal tentunya lebih utama dibandingkan
melakukan sesuatu sekedar untuk dipuji manusia. Bukankah demikian?
Janji Allah Ta’Ala Pasti Benar !
Saudariku
muslimah -semoga Allah senantiasa menjaga kita diatas kebenaran-,
ketahuilah! Orang-orang yang saling mencintai karena Allah akan
mendapatkan kemuliaan di Akhirat. Terdapat beberapa Hadits Qudsi tentang
hal tersebut.
Dari Abu
Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda: Allah berfirman pada Hari Kiamat, “Dimanakah orang-orang yang
saling mencintai karena keagungan-Ku pada hari ini? Aku akan menaungi
mereka dalam naungan-Ku pada hari yang tiada naungan kecuali
naungan-Ku.” (HR. Muslim; Shahih)
Dari Abu
Muslim al-Khaulani radhiyallahu ‘anhu dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu
‘anhu, ia mengatakan: “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam menceritakan dari Rabb-nya, dengan sabdanya, ‘Orang-orang yang
bercinta (saling mencintai) karena Allah berada di atas mimbar-mimbar
dari cahaya dalam naungan ‘Arsy pada hari yang tiada naungan kecuali
naungan-Nya.’”
Abu Muslim radhiyallahu ‘anhu melanjutkan, “Kemudian
aku keluar hingga bertemu ‘Ubadah bin ash-Shamit, lalu aku menyebutkan
kepadanya hadits Mu’adz bin Jabal. Maka ia mengatakan, ‘Aku mendengar
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan dari Rabb-nya,
yang berfirman, ‘Cinta-Ku berhak untuk orang-orang yang saling mencintai
karena-Ku, cinta-Ku berhak untuk orang-orang yang saling
tolong-menolong karena-Ku, dan cinta-Ku berhak untuk orang-orang yang
saling berkunjung karena-Ku.’ Orang-orang yang bercinta (saling
mencintai) karena Allah berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya dalam
naungan ‘Arsy pada hari tiada naungan kecuali naungan-Nya.” (HR. Ahmad; Shahih dengan berbagai jalan periwayatannya)
Dari Mu’adz
bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, ia menuturkan, Aku mendengar Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah berfirman, ‘Orang-orang
yang bercinta karena keagungan-Ku, mereka mendapatkan mimbar-mimbar dari
cahaya sehingga para nabi dan syuhada iri kepada mereka.” (HR. At-Tirmidzi; Shahih)
Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmushshalihaat (artinya:
“Segala puji bagi Allah, dengan nikmat-Nyalah segala kebaikan menjadi
sempurna.” Do’a ini diucapkan Rasulullah bila beliau mendapatkan hal
yang menyenangkan). Allah Ta’aala menyediakan bagi kita lahan pahala
yang begitu banyak. Allah Ta’aala menyediakannya secara cuma-cuma bagi
kita. Ternyata, begitu sederhana cara untuk mendapat pahala. Dan begitu
mudahnya mengamalkan ajaran Islam bagi orang-orang yang meyakini bahwa
esok dia akan bertemu dengan Allah Rabbul ‘alamin sembari
melihat segala perbuatan baik maupun buruk yang telah dia lakukan selama
hidup di dunia. Persiapkanlah bekal terbaik kita menuju Negeri Akhirat.
Semoga Allah mengumpulkan kita dan orang-orang yang kita cintai karena
Allah di Surga Firdaus Al-A’laa bersama para Nabi, syuhada’, shiddiqin, dan shalihin. Itulah akhir kehidupan yang paling indah…
Muroja’ah: Ustadz Subhan Khadafi, Lc.




