Inilah Alasannya Mengapa Seorang Muslim Dilarang Merayakan Valentine
Pembuktian Cinta yang Konyol: Valentine Oleh: Ardiannur Ar Royya Penggiat Diskusi di CIIA (The Community Of Ideolog...
https://randysofyanshare.blogspot.com/2013/02/inilah-alasannya-mengapa-seorang-muslim.html
Oleh: Ardiannur Ar Royya
Penggiat Diskusi di CIIA (The Community Of Ideological Islamic Analyst)
Kebenaran Valentine
Setelah Pesta Tahun Baru ditiap
awal tahun, kini masyarakat pun sibuk dengan ‘pesta’ berikutnya. Bulan
Februari yang dikenal sebagai sebuah bulan yang penuh kasih sayang dan
cinta, masyarakat dunia pun tentu tidak ada yang tidak tahu bahwa setiap
tanggal 14 Februari akan ada sebuah perayaan besar bernama Valentine Day’s.
Perayaan ini dahulunya adalah
salah satu hari raya bangsa Romawi yang menganut paganisme (menyembah
berhala) semenjak lebih dari 17 abad yang lalu. Perayaan valentine
tersebut dimaksudkan oleh mereka sebagai sebuah pengungkapan dan
pembuktian cinta kepada sesembahan mereka.
Para ahli sejarah mengatakan bahwa
dasar dan sejarah dari asal muasal hari kasih sayang ini kebanyakan
memiliki latar belakang yang tidak jelas sama sekali. Memang dari
beberapa sejarah yang menjadi dasar akan adanya hari kasih sayang ini
memiliki beberapa kesamaan terutama dari nama tokoh sejarah yang sama,
namun dari segi alur cerita, waktu dan tempat terjadinya ternyata
terdapat banyak sekali versi. Masalah ini timbul karena budaya hari
kasih sayang ini hanyalah sebuah budaya yang diturun temurunkan oleh
Bangsa Romawi kepada keturunan mereka berikutnya termasuk kepada kaum
nasrani pewaris mereka.
Di sisi lain, ada pula para ahli
sejarah yang mencoba mengurutkan sejarahnya. Mereka mengatakan bahwa
budaya ini telah ada semenjak abad ke-4 SM. Pada awalnya bukanlah
bernama Hari Valentine atau Hari Kasih Sayang, dan tanggalnya pun bukan
tanggal 14 Februari. Dikatakan bahwa cikal bakal budaya tersebut ada
pada budaya perayaan yang dilaksanakan setiap tanggal 15 Februari.
Perayaan tersebut ditujukan untuk menghormati Dewa Lupercus (dewa
kesuburan yang dilambangkan setengah telanjang dan berpakaian kulit
kambing), acara ini dilakukan dengan mengadakan sebuah upacara dan di
dalamnya diselingi dengan sebuah sesi untuk mengambil undian dengan
tujuan untuk mencari pasangan. Para gadis atau wanita yang tidak punya
pasangan akan menuliskan namanya dalam sebuah kertas kemudian
memasukkannya ke dalam sebuah tempat untuk mengundi. Berikutnya para
lelaki akan menarik gulungan kertas yang ada secara acak yang berisikan
nama para wanita tadi. Kemudian mereka menikah untuk periode satu tahun
hingga upacara tahun depannya lagi dan sesudah itu mereka bisa
ditinggalkan begitu saja. Dan kalau sudah tidak memiliki pasangan lagi,
para wanita tadi pun akan melakukan hal yang sama kembali dan
seterusnya.
Sementara itu, diceritakan pula
bahwa pada 14 Februari 269 M telah meninggal seorang pendeta kristen
sekaligus seorang dokter (tabib) dan dikenal dengan nama Valentine. Pada
saat itu ia hidup di masa Kaisar Claudius yang dikenal luas sebagai
seorang kaisar yang kejam., dan ia sangat membenci kaisar tersebut.
Kaisar Claudius berambisi memiliki
pasukan militer yang besar dan kuat, karena itulah ia menginginkan
semua pria yang ada di wilayah kerajaannya bergabung di dalamnya dan
menjadi pasukannya. Sayangnya, banyak orang yang menentang keinginannya
ini. Hal ini disebabkan karena para pria tidak ingin meninggalkan
keluarga dan kekasih hatinya. Tentu saja hal ini membuat Kaisar Claudius
marah dan ia pun memerintahkan pejabatnya untuk melakukan sebuah ide
yang sangat gila.
Kaisar Claudius berpikir jika para
pria tidak menikah maka mereka tidak akan memiliki alasan lagi untuk
tidak bergabung menjadi pasukan kerajaannya. Lalu Kaisar Claudius pun
melarang adanya pernikahan di kerajaannya. Masyarakat di dalam
kerajaannya menganggap bahwa ide ini sangat tidak masuk akal, terutama
para pasangan muda. Karenanya St. Valentine pun menolak ide gila Kaisar
Claudius ini.
St. Valentine pun tetap
melaksanakan aktivitasnya untuk menikahkan para pasangan yang tengah
jatuh cinta meskipun secara rahasia sebagai seorang pendeta. Lama
kelamaan aksi ini akhirnya diketahui oleh Kaisar Claudius dan kontan
kaisar pun langsung marah. Awalnya ia hanya memberikan peringatan kepada
St. Valentine namun tidak pernah digubris dan St. Valentine tetap
memberkati pernikahan dalam sebuah kapel kecil yang hanya diterangi
cahaya lilin.
Hingga pada suatu malam, ia
tertangkap basah ketika memberkati salah satu pasangan. Pasangan
tersebut berhasil melarikan diri, namun sayang St. Valentine tidak
berhasil melarikan diri dan akhirnya ia pun dijebloskan ke dalam
penjara. Keesokan harinya ia divonis hukuman mati dengan dipenggal
kepalanya.
Kematian St. Valentine ini
bertepatan dengan tanggal 14 Februari. Kisahnya pun menyebar dan meluas
ke seluruh Roma hingga tak ada seorang pun yang tak mengetahui cerita
ini. Kakek dan nenek mewariskan cerita ini ke anak cucunya dan
seterusnya.
Pada tahun 494 M, Paus Gelasius I
mengubah upacara Lupercaria yang sebelumnya dilaksanakan setiap 15
Februari menjadi perayaan resmi oleh gereja. Beberapa tahun kemudian,
tanggal perayaan diganti menjadi 14 Februari yang bertepatan dengan
tanggal matinya Santo Valentine sebagai bentuk penghormatan bahkan
pengkultusan (pengagungan) pada dirinya. Dengan demikian perayaan
Lupercaria sudah tidak ada lagi dan diganti dengan “Valentine Days”
Sesuai perkembangannya, Hari Kasih
Sayang atau Valentine Day’s ini pun menjadi semacam rutinitas atau
budaya ritual bagi kaum gereja. Agar tidak terlihat formal, maka
perayaan ini dibungkus dengan saling memberi hadiah dan hiburan-hiburan.
Free Sex on Valentine
Jika kita mengartikan valentine
sebatas pada berbagi hadiah, coklat, mengucapkan rasa kasih sayang maka
sesungguhnya kita telah keliru. V-Day tidak hanya berhubungan dengan
hal-hal tersebut, akan tetapi juga identik dengan kondom dan seks bebas.
Berdasarkan pantauan dari beberapa daerah, permintaan kondom menjelang
valentine meningkat pesat. Di Kota Medan misalnya, berdasarkan pantauan
dari wartawan Antara, ternyata ditemukan fakta bahwa penjualan kondom di
apotek meningkat pesat. Parahnya, fenomena ini terjadi merata hampir di
semua daerah.
Pada dasarnya fenomena ini
tidaklah aneh. Fakta lain pernah disampaikan oleh dr. Andik Wijaya, M.
Rep.Med, seorang seksolog dari Surabaya. “Sekarang V-Day nuansanya cenderung romantis dan erotis” tuturnya.
Tentu ini bukan omong kosong, salah satu faktor yang mengsukseskan
erotisme saat perayaan Valentine adalah makanan khas V-Day berupa
coklat. Menurut dr. Andik, coklat mengandung zat yang disebut Phenyletilamine atau zat yang bisa membangkitkan gairah seksual.
Budaya Valentine memang telah
bertranformasi menjadi berbagai macam budaya yang ada. Di Inggris, pada
14 Februari malah dicanangkan sebagai Hari Impoten Nasional dengan
tujuan meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap ancaman impotensi 2
juta pria inggris. Bahkan di AS lebih parah lagi, 14 Februari dijadikan
sebagai Pekan Kondom Nasional yang dimaksudkan sebagai kampanye nasional
penggunaan kondom, karena setiap perayaan V-Day selalu diikuti dengan
peningkatan kasus HIV/AIDS. Padahal tingkat kegagalan kondom mencapai
33,3 persen, sehingga bisa dikatakan bahwa kondom tidak bisa mencegah
secara penuh penularan penyakit mematikan ini.
Bagaimana dengan di Indonesia? 14
Februari memang tidak hanya menjadi satu momen untuk menyatakan cinta
dari para pasangan muda namun juga telah jauh terjerumus pada sebuah
perayaan maksiat yang sedemikian luar biasa besar. Perilaku seks bebas
yang meningkat ketika Hari Kasih Sayang ini bukanlah sebuah isapan
jempolan belaka, namun memang benar adanya. Kita bisa melihat di
minimarket-minimarket di kota-kota besa, di sana bisa kita temukan
ketika mendekati Hari Kasih Sayang ini berbagai macam produk makanan
yang dijual bersamaan dengan kondom, seperti coklat misalnya. Ini adalah
indikasi besar bahwa memang pada tanggal 14 Februari ini akan terjadi
aktivitas free sex secara besar-besaran, dan untuk memfasilitasi hal tersebut maka dijualah berbagai macama produk makanan berhadiah kondom.
Seks bebas memang sudah menjadi
semacam kebudayaan di kota-kota besar. Terbukti 1,3 juta Anak Baru Gede
(ABG) di Jakarta pernah melakukan hubungan intim. Bahkan riset yang
dilakukan oleh Universitas Indonesia menunjukkan bahwa 650 ribu
perempuan remaja sudah kehilangan keperawanannya. Dengan kata lain
banyak dari mereka yang telah melakukan hubungan seks di luar nikah.
Kepala BKKBN, Dr. Sugiri Syarief dalam acara “Workshop Generasi
Berencana dan Berkarakter” menyampaikan bahwa 50% dari total ABG yang
berusia 15-17 pernah melakukan seks bebas. (nyatanyatafakta.info)
Sebenarnya, momen V-Day ini dijadikan sebagai sebuah alasan dan pembenaran untuk melakukan aktivitas di atas. Free Sex on Valentine? It’s real!
Lagi, budaya latah Muslim Indonesia!
Natal 25 Desember dirayakan, tahun
baru 01 Januari pun dirayakan, sekarang V-Day 14 Februari pun
dirayakan. Lalu agama apa yang dianut?
Jika ada yang mengatakan bahwa
Indonesia tidak punya identitas yang jelas, sepertinya hal tersebut bisa
dan sangat mungkin terjadi. Indonesia yang mayoritas muslim beragama
Islam, namun justru aktivitas-aktivitas mereka jauh dengan apa dan
bagaimana seharusnya seorang muslim. Perayaan-perayaan yang dilakukan
pun jauh dari apa yang telah diperintahkan dan digariskan oleh Islam.
Kita melihat fakta ketika bulan
Desember lalu, mayoritas kaum muslim di tanah air pun seolah-olah
menanggalkan identitas mereka kemudian berpindah agama sesaat untuk
merayakan hari raya yang tidak pernah ada di dalam Islam, hari natal.
Padahal natal adalah persoalan aqidah yang dosanya akan sangat
memberatkan bagi kaum muslim yang mengaku beragama Islam melakukannya,
bahkan bisa jadi jatuh ke dalam kekafiran.
Kemudian pada bulan Januari, kaum
muslim pun sibuk merayakan tahun baru yang notabene perayaan tersebut
sama sekali tidak ada di dalam Islam. Kaum muslim bersedia menghabiskan
waktunya, mengeluarkan uang mereka, pergi bersama teman-teman mereka
hanya untuk merayakan sebuah perayaan yang sebenarnya merupakan perayaan
orang-orang jahiliah.
Dan kini pada Bulan Februari,
mayoritas kaum muslim Indonesia pun bersiap untuk menyambut dan
merayakan sebuah perayaan yang sebenarnya sama sekali bukan berasal dari
Islam, V-Day. Mayoritas kaum muslim jauh-jauh hari sudah menyusun
rencana apa yang akan mereka lakukan dan acara apa yang akan mereka
adakan atau hadiri bersama dengan pasangan mereka. Seolah sepaket dengan
hal ini, di kota-kota besar pun berbagai macam suasana dibuat untuk
menyambut datangnya V-Day, baik berupa penjualan coklat yang semakin
marak sebagai tanda hari V-Day, atau dekorasi toko-toko, mall-mall, yang
dibuat sesuai dengan tema V-Day, atau bahkan penjualan kondom yang
semakin banyak dan meluas.
Seolah-olah memang benar bahwa
Indonesia tidak punya identitas, meniru budaya barat dengan tujuan agar
bisa maju dan berkembang seperti dunia barat. Padahal hal tersebut sama
sekali tidak berhubungan. Bukti sederhana bahwa Indonesia adalah negara
pembebek barat dan hampir kehilangan identitasnya.
Muslim : Say No to Valentine!
Setidaknya ada beberapa alasan
mengapa budaya valentine wajib kita tolak. Selain karena efek negatif
nya yang luar biasa besar juga yang lebih penting adalah karena budaya
ini dilarang di dalam Islam. Dan bagi mereka yang beragama Islam maka
budaya ini bersifat haram untuk dilakukan.
Pertama, kita ketahui
bahwa valentine berasal dari aqidah paganis (penyembah berhala) kaum
romawi yang dilakukan untuk mengungkapkan rasa cinta mereka kepada
berhala yang mereka agungkan selain Allah SWT. Artinya barang siapa yang merayakan V-Day maka juga merayakan momen tersebut. Padahal Allah telah berfirman :
“Sesungguhnya orang yang
mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan
kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi
orang-orang zhalim itu seorang penolongpun.” (QS. Al-Maidah : 72)
Karena itulah seorang muslim wajib
berhati-hati kepada sesuatu yang syirik ataupun aktivitas yang
menghantarkan kepada kesyirikan seperti V-Day ini. Tentunya sudah
diperingatkan secara tegas oleh Allah dan RasulNya tentang balasan bagi
orang yang berbuat syirik, dan sesungguhnya siksa Allah sangatlah pedih
dan Allah tidak pernah ingkar janji.
Kedua, bagi kaum muslim, hari raya yang mereka miliki hanyalah dua yakni Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha. Disitulah
kaum muslim memiliki serangkaian aktivitas ibadah, dan ritual sesuai
dengan yang telah digariskan oleh Islam. Tentu tidak ada dalam ajaran
Islam hari raya selain kedua hal tadi, maka begitu juga V-Day. Ia sama
sekali tidak berhubungan dengan kaum muslimin dan tidak pantas untuk
dirayakan kecuali memang ada tuntunan dari Rasulullah bahwa ada
keharusan untuk melaksanakan dan merayakan V-Day. Ada suatu kaidah fiqh
yang ma’ruf dikalangan para ulama besar : “Hukum asal ibadah adalah haram (sampai adanya dalil).” Artinya
segala macam aktivitas ritual di dalam Islam seperti shalat, zakat,
puasa, dan lain sebagainya adalah haram awalnya hingga dalil
memerintahkannya. Sedangkan V-Day sampai sekarang tidak pernah kita
temukan dalil dan korelasi aktivitasnya dengan ibadah yang harus
dilakukan oleh seorang muslim. Karena itu haram hukumnya untuk melakukan
perayaan V-Day.
Ketiga, para ahli sejarah banyak yang memperselisihkan akan dasar awal mula peringatan V-Day ini. Bahkan
keterkaitan St. Valentine pun diperselisihkan, termasuk sebab dan
kisahnya. Ada pula yang menganggapnya tidak pernah terjadi, hal ini
membuat kaum nasrani tidak mengakui perayaan paganis yang mereka tiru
dari bangsa Romawi paganis. Para pemuka Nasrani telah menentang perayaan
ini karena menyebabkan timbulnya kerusakan akhlak pemuda dan pemudi
akibat aktivitas-aktivitas dalam perayaan V-Day ini. Hingga kemudian
dilaranglah perayaannya di Italia, pusat Katholik. Lalu kemudian
perayaan ini muncul kembali dan tersebar di Eropa, berlanjut menular
pada negeri-negeri kaum muslimin. Bila para pemuka Nasrani –pada masa
mereka- saja telah mengingkari adanya budaya perayaan V-Day ini, maka
tentu para ulama kaum muslimin dan para cendekiawannya wajib menerangkan
hakikatnya dan hukum merayakannya kepada kaum muslimin secara luas.
Sebagaimana wajib bagi kaum muslimin untuk mengingkari dan mengharamkan
serta tidak menerima budaya jahiliah ini.
Keempat, sesungguhnya
V-Day atau Hari Kasih Sayang adalah sebuah kedok untuk legalnya
aktivitas free seks dan aktivitas-aktivitas maksiat lainnya.
Sebelumnya telah disampaikan bagaimana momen ini dijadikan sebagai
sebuah pembenaran atas nama cinta untuk melakukan aktivitas zina dan
free seks. Di sisi lain, budaya ini juga adalah sebuah budaya rusak yang
bertujuan untuk menghancurkan generasi pemuda kaum muslim hingga mereka
menjadi tukang pesta dan ahli maksiat sehingga perubahan-perubahan
besar yang seharusnya bisa mereka bawa demi membangkitkat umat tidak
akan pernah terjadi. Padahal Allah berfirman :
“Dan janganlaah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Isra : 32)
Inilah beberapa alasan mengapa
sebagai seorang muslim wajib menolak perayaan V-Day. Tentunya selain
karena tidak adanya ajaran di dalam Islam mengenai perayaan hari ini,
dan sikap yang tegas dari hukum Islam yang mengharamkan hal ini sebagai
alasan utama. Juga alasan lain berupa fakta kerusakan yang ditimbulkan
dari dilaksanakannya Valentine ini. Merebaknya free seks, zina,
HIV/AIDS, dan kerusakan-kerusakan lainnya.
V-Day sesungguhnya
bukanlah hari pembuktian cinta, atau hari kasih sayang karena justru
pada hari ini lah kebanyakan manusia yang mengatakan mereka melakukan
aktivitas seperti free seks, zina, dan lainnya atas nama cinta, sedang
menodai arti cinta itu sendiri. Bagaimana mungkin cinta diartikan hanya
sebuah pemuasan nafsu belaka? Pemenuhan kebutuhan biologis saja? Dan
bagaimana mungkin atas nama cinta semuanya boleh dan legal untuk
dilakukan.
Sesungguhnya Islam lah yang mampu
menempatkan perasaan cinta pada manusia di tempat yang seharusnya. Islam
tidak mengekang apalagi membunuh fitrah manusia untuk mencintai ini,
namun juga tidak membiarkannya hingga menjadi tak terbatas dan menggila.
Islam mengaturnya dengan sangat baik, menempatkannya di tempat yang
seharusnya, dan menjaganya dengan sangat luar biasa. Hingga sesungguhnya
cinta itu benar-benar indah, baik, dan juga membahagiakan. Cinta yang
menjadi pewarna yang begitu baik di dunia, bukan justru yang seringkali
menimbulkan kerusakan dan kemaksiatan yang luar biasa besar. Itulah
cinta kepada Allah dan RasulNya, mencinta atas dasar aqidah Islam dan
keimanan yang kuat.
Jika kita ingin membuktikan cinta kita maka buktikanlah dengan cara-cara yang telah ditetapkan oleh Islam. Dan sesungguhnya bukti cinta paling besar dan berharga adalah dengan taat kepada aturan Allah dalam setiap lini kehidupan, tidak kurang sedikitpun. Jika saat ini hukum Allah sedang ditanggalkan dan dicampakkan, maka menjadi sebuah kewajiban bagi kaum muslim untuk mengembalikannya di tempat seharusnya, yakni sebagai pengatur tunggal dalam kehidupan manusia. Itulah perjuangan untuk menerapkan syariat Allah dan menegakkan Khilafah Islamiyah sebagai pelindung dan pelaksana hukum-hukum Allah. Wallahu a’lam bi ash shawab. [Ahmed Widad/www.globalmuslim.web.id]




