Muliakan Ibumu
Bagi anak, orang tua adalah orang terdekat yang seharusnya dijadikan sandaran untuk mendapatkan kasih sayang. Terlebih seorang ibu. A...
https://randysofyanshare.blogspot.com/2012/12/muliakan-ibumu.html
Bagi anak, orang tua adalah orang terdekat yang seharusnya dijadikan sandaran untuk mendapatkan kasih sayang. Terlebih seorang ibu. Allah menjadikan seorang wanita mulia dengan kedudukannya sebagai seorang ibu. Seorang ibu adalah manusia yang kerap kali menjadi tujuan kita bertumpu. Di saat sedih, di saat membutuhkan semangat, atau bahkan di saat butuh bantuan, ibu selalu ada untuk kita.
Seorang ibu,
laksana malaikat yang dikirim Allah kepada setiap anak. Melimpahkan
kasih sayangnya, memberikan perlindungannya, dan melakukan segala
pengorbanan demi kebahagiaan anak-anaknya.
Tak terukur
perjuangan seorang ibu di kala hamil, rasa sakit dasyat yang
dirasakannya ketika melahirkan, serta kelelahan demi kelelahan yang
dilakukannya demi memberikan yang terbaik untuk kita.
حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِير
Ibunya
telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan
menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang
ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (QS. Luqman 14)
Maka wajarlah
ketika Rasulullah menyebutkan nama ibu hingga tiga kali sebelum menyebut
nama ayah saat ditanya siapa yang patut kita perlakukan dengan baik.
Karena ibu lah yang dengan karunia kasih sayang yang dilimpahkan Allah
padanya, telah memberikan segenap rasa itu pada anak-anaknya.
Dari sahabat abu hurairah radiyalhu ‘anhu beliau berkata : Datang
seorang pria laki-laki kepada rasulullah kemudian dia bertanya : Wahai
rasulullah, siapakah yang paling berhak untuk kuperlakukan dengan baik?”
Beliau bersabda, “Ibumu”, Orang tersebut bertanya lagi,”kemudian
siapa?”. Beliau bersabda,”Ibumu”. Orang tersebut bertanya lagi,”kemudian
siapa?”. Beliau bersabda,”Ibumu”. Orang tersebut bertanya
lagi,”kemudian siapa?”. Beliau bersabda,”Bapakmu” (HR. Bukhari dan
Muslim)
Ketika kita
sakit, ibulah yang bangun sepanjang malam untuk memperhatikan kondisi
anaknya, sementara sebagian besar ayah bisa tertidur lelap dikala itu.
Ibu, bahkan ketika kita berniat membalas jasanya dengan emas
segunungpun, tak akan mampu menggati semua yang telah ia lakukan pada
kita. Bahkan sekeras apapun perjuangan usaha kita untuk ‘menyaingi’
semua yang dilakukan ibu kepada kita, semua itu tak akan menandingi
sedikit pun yang dilakukan ibu pada anak-anaknya.
Suatu hari,
Ibnu Umar melihat seseorang yang sedang menggendong ibunya sambil thawaf
mengelilingi Ka’bah. Orang tersebut lantas berkata kepadanya, “Wahai
Ibnu Umar, menurut pendapatmu apakah aku sudah membalas kebaikan ibuku?”
Ibnu Umar
menjawab, “Belum, meskipun sekadar satu erangan ibumu ketika
melahirkanmu. Akan tetapi engkau sudah berbuat baik. Allah akan
memberikan balasan yang banyak kepadamu terhadap sedikit amal yang
engkau lakukan.” (Kitab al-Kabair karya adz-Dzahabi).
Ibu….melaluinya
kita bisa merasakan betapa besar kasih sayang Allah yang dimiliki bagi
setiap hambanya. Sungguh, sebesar apapun kasih sayang seorang ibu pada
anaknya, pada dasarnya semua itu tak mampu melebihi kasih sayang Allah
pada hamba Nya.
“Dari Umar
bin Al Khaththab RA berkata: Didatangkanlah para tawanan perang kepada
Rasulullah SAW. Maka di antara tawanan itu terdapat seorang wanita yang
susunya siap mengucur berjalan tergesa-gesa – sehingga ia menemukan
seorang anak kecil dalam kelompok tawanan itu – ia segera menggendong,
dan menyusuinya. Lalu Nabi Muhammad SAW bersabda: Akankah kalian
melihat ibu ini melemparkan anaknya ke dalam api? Kami menjawab: Tidak,
dan ia mampu untuk tidak melemparkannya. Lalu Nabi bersabda:
Sesungguhnya Allah lebih sayang kepada hamba-Nya, melebihi sayangnya ibu
ini kepada anaknya” (HR. Al Bukhari dan Muslim)
Namun, apakah
yang sudah kita lakukan untuknya? Ketika kita kecil, pelukan ibu adalah
tempat paling nyaman dan menenangkan di dunia, ketika kita beranjak
remaja tak sedikit dari kita yang merasa malu dengan keberadaannya,
bahkan ketika dewasa dan berumah tangga, banyak juga yang merasa
terganggu dengan keberadaannya dalam rumah tangga kita. Bahkan setelah
lelah dan segala pengorbanan yang ibu lakukan pada kita, kita malah
membalasnya dengan menjadi anak kurang ajar, menjadikan ibu-ibu kita
sebagai pengasuh bagi anak-anak kita, melimpahkan kewajiban dan tanggung
jawab kita sebagai seorang ibu, lagi-lagi kepadanya.
Ibu…aku
merindukanmu seperti halnya rinduku pada syurga. Subhanallah, sungguh
sejuk hati seorang ibu mendengar anaknya berkata demikian. Bahkan di
masa senjanya, seorang ibu tak mengharapkan materi apapun dari
anak-anaknya. Seorang ibu hanya mengharap anak-anaknya akan bahagia.
Hanya itu. Sungguh tulus.
Namun, di akhir
zaman ini, tak sedikit juga kita jumpai ibu-ibu yang menjelma menjadi
monster. Membuang anak yang baru dilahirkannya, tak mau menyusui
anaknya, tak rela melepas karir dan memilih menitipkan anak-anaknya pada
pengasuh, menjadikan anak-anaknya sebagai tambang untuk mengeruk
materi, bahkan tak jarang juga kita menemukan seorang ibu yang rela
menjual anaknya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Na’uzubillah.
Seandainya,
para wanita tahu betapa mulianya kedudukan seorang ibu, betapa indahnya
syurga yang dijanjikanNya bagi para ibu-ibu mulia. Sungguh….seandainya
mereka mengetahuinya. Maka dunia ini akan dipenuhi oleh para ibu
penghuni syurga. Aamiin Ya Rabb. (rasul/




