Kuatkan Iman, Peliharalah Rasa Malumu!
“SESUNGGUHNYA setiap agama mempunyai akhlak dan sesungguhnya akhlak Islam adalah malu,” demikian hadits Rasulullah Shallallahu ‘alai...
https://randysofyanshare.blogspot.com/2012/11/kuatkan-iman-peliharalah-rasa-malumu.html
“SESUNGGUHNYA setiap agama mempunyai akhlak dan sesungguhnya akhlak Islam adalah malu,” demikian hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah.
Malu
bukanlah sifat yang mudah untuk dimiiki. Malu hanya akan tumbuh dan
menjadi perangai seorang Muslim manakala imannya kepada Allah dan hari
akhir benar-benar sangat kokoh.
Hari ini nampaknya sebagian besar
umat Islam agak abai dengan sifat malu ini. Contoh paling nyata adalah
beberapa sikap kaum Muslimah yang belum menutup aurat ketika memajang
foto-foto yang semestinya tidak di upload ke dunia maya malah justru
sangat disenangi dan digandrungi. Narsis, begitu istilah mereka.
Bahkan ada yang suka memasang foto dirinya saat berenang dengan pakaian
yang tidak sepantasnya. Demikian pula dengan yang laki-laki yang juga
memajang foto-foto anggota badan yang termasuk aurat ke dalam status
Facebook-nya.
Selain di dunia maya, pemandangan sehari-hari, sering kita saksikan
pria-wanita berboncongan berpelukan, padahal dia bukan suami-istri. Tak
jarang, sebagian di antara mereka adalah gadis-gadis berjilbab.
Ada juga yang tak kalah memprihatinkan. Aksesori dan sytel pakaian
wanita saat ini justru lebih tepat dikatakan terbuka, dibanding
tertutup. Inilah yang pernah disitir Rasulullah Muhammad sebagai,
‘berpakaian tapi sesungguhnya telanjang’. Pemandangan ini bisa kita
saksikan di jalanan, di kantoran, pasar bahkan di kampus. Tak jarang
pula banyak gadis-gadis jilbab menutupi kepalanya namun di sisi lain,
bagian tubuh yang lain hanya sekedar dibalut, sehingga (maaf) antara
berpakaian dan telanjang sesungguhnya tak ada bedanya.
Mengenai aurat ini, perhatian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam
sangat tegas. Beliau bersabda; “Sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala
Mahalembut, Mahamalu dan Mahamenutupi, Dia menyukai sifat malu dan
menutupi, maka jika salah seorang dari kalian mandi, hendaknya dia
menutup diri.”
Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa lihat dari sikap sebagian kaum
Muslimin yang tidak bersegera menunaikan kewajiban-kewajibannya. Sudah
tahu waktu sholat tidak lama lagi, lantunan adzan pun mulai terdengar,
tetapi masih lebih memilih asyik nonton di depan TV, bahkan sebagian
lainnya masih asyik ber-Facebook ria. Hal ini juga menandakan bahwa
sifat malu belum menjadi bagian tak terpisahkan dari sebagian umat
Islam.
Dalam ajaran Islam, seorang Muslim yang melakukan dua contoh sikap di
atas, dan termasuk Muslim yang mengabaikan imannya hanya karena urusan
keduniaan, termasuk kelompok Muslim yang belum memiliki rasa malu.
Mengapa demikian?
Suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam bersabda; “Malulah
kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu.” Mereka menjawab,
“Alhamdulillah, kami malu.” Nabi pun melanjutkan sabdanya; “Bukan itu,
akan tetapi malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya adalah hendaknya
kamu menjaga kepala dan apa yang dipahaminya, menjaga perut dengan
isisnya, hendaknya kamu mengingat kematian dan hancurnya jasad
sesudahnya, barangsiapa menginginkan akhirat, niscaya dia meninggalkan
perhiasan dunia, barangsiapa melakukan hal itu, maka dia tetlah malu
kepada Allah dengan sebenar-benarnya.” (HR. Tirmidzi).
Itulah mengapa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam tidak pernah
melewati malam melainkan dengan bangun untuk tahajjud. Beliau malu
kepada Allah jika nikmat yang begitu besar dan amanah yang tidak ringan
tidak ditunaikan secara sungguh-sungguh dengan penuh kesyukuran. Beliau
malu jika sepanjang malam digunakan hanya untuk tidur. Demikianlah sifat
manusia agung yang sangat pemalu, terutama kepada Allah Subhanahu
Wata’ala.
Ketika malam Mi’raj dalam perjalanan beliau kembali ke langit dunia
untuk membawa perintah mendirikan sholat, beliau bolak-balik menghadap
Allah karena mendapat saran Nabi Musa agar perintah sholat yang Allah
wajibkan atas umatnya dikurangi jumlah raka’atnya.
Akhirnya setelah mendapatkan keringanan menjalankan shalat lima waktu
sehari semalam, Nabi Musa masih menyarankan Rasulullah Shallallahu
‘alaihi Wassalam minta keringanan kepada Allah. “Istahyaytu min rabbi” demikian
jawab manusia agung itu. “Aku malu kepada Rabbku”. Subhanallah,
Rasulullah saja malu meminta keringanan lagi, lalu mengapa sebagian umat
Islam tidak bersemangat mendirikan shalat.
Bahkan Rasulullah malu hanya berdoa untuk dirinya sendiri. Beliau malu
kepada Allah sekaligus malu kepada seluruh umatnya jika berdoa hanya
untuk diri beliau sendiri, apalagi setiap doa beliau pasti dikabulkan
oleh Allah Subhanahu Wata’ala.
Hal ini beliau jelaskan dalam sebuah sabdanya; “Setiap Nabi
mempunyai doa yang mustajab, lalu masing-masing dari mereka bersegera
menggunakan doanya (di dunia), namun aku menyimpan doaku sebagai
syafa’at bagi umatku di hari kiamat, ia akan didapatkan Insya Allah oleh
siapa pun dari umatku yang mati daam keadaan tidak mempersekutukan
Allah dengan apa pun.” (HR. Bukhari).
Jika Rasulullah malu kepada kita sebagai umatnya, dan mengkhususkan doa
mustajabnya untuk kita, lalu mengapa kita tidak malu mengabaikan amanah
dan sunnah-sunnah beliau, sementara kita selalu berharap mendapat
syafaatnya kelak di hari kiamat?
Malu dalam Pergaulan
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam juga sangat memperhatikan rasa
malu dalam pergaulan. Aisyah mengatakan bahwa beliau senantiasa menjaga
diri dari yang tidak baik (iffah) dan menjaga kesendirian. “Nabi seorang
yang tidak suka berkata kotor, tidak gemar menjelek-jelekkan, dan tidak
berteriak-teriak di pasar,” demikian tutur istri beliau yang banyak
meriwayatkan hadits-haditsnya.
Urusan malu adalah urusan iman dan termasuk perkara yang besar. “Malu
itu termasuk dari iman, dan iman itu di dalam surga, keburukan ucapan
termasuk sikap tidak peduli (kurang ajar) dan sikap tidak peduli itu
adalah di neraka,” demikian tegas Rasulullah sebagaimana diriwayatkan
oeh Tirmidzi.
Rasulullah menjelaskan bahwa malu adalah lawan dari keburukan ucapan, ia
tidak akan pernah sejalan dengannya. Manakala kita menjumpai manusia
yang lisannya selalu menjelek-jelekkan orang lain, dan
membangga-banggakan dirinya, cukuplah bukti bahwa orang itu tidak punya
rasa malu yang berarti cacat keimanannya. Dan, tidak ada yang
dikehendakinya melainkan kehidupan dunia belaka.
Di sinilah fungsi utama akhlak. Oleh karena itu akhlak dalam Islam itu
meliputi banyak sisi, mulai dari akhlak kepada Allah, manusia dan alam
semesta.
Maka dari itu, milikilah akhlak yang mulia karena hanya dengan akhlak
mulia itu seorang Muslim akan memiliki rasa malu yang sebenar-benarnya.
Bukan rasa malu yang umum disalahpahami oleh kebanyakan manusia, dimana
malu hanya ditujukan kepada manusia. Padahal malu yang benar adalah malu
kepada Allah bukan kepada manusia.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam bersabda; “Seseorang lebih patut untuk malu kepada Allah daripada kepada manusia.” (HR. Abu Dawud).
Perilaku sebagian orang yang gemar mengambil hak orang lain (korupsi),
tidak jujur, dan takut diketahui orang segala rencana dan perbuatannya
yang merusak, semuanya termasuk sifat tercela dan menunjukkan ketiadaan
rasa malu kepada Allah Subhanahu Wata’ala.
Orang yang seperti itu biasanya akan shock jika keburukannya
diketahui oleh orang lain, sebab baginya tidak ada yang lebih ditakutkan
kecuali ada manusia mengetahuinya. Terhadap Allah, orang seperti itu
tidak benar-benar malu. Oleh karena itu tidak mengherankan jika mereka
berani melawan perintah Allah, asalkan manusia tidak mengetahui dan
menentangnya. Naudzubillah.
Terhadap orang seperti itu, Rasulullah bersabda; “Sesungguhnya di
antara ajaran yang manusia dapatkan dari perkataan kenabian yang pertama
adalah Apabila engkau tidak malu, maka lakukanlah apa saja yang kau
mau.” (HR. Bukhari).
Di dalam Al-Qur’an, Allah berfirman;
إِنَّ الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي آيَاتِنَا لَا يَخْفَوْنَ عَلَيْنَا
أَفَمَن يُلْقَى فِي النَّارِ خَيْرٌ أَم مَّن يَأْتِي آمِناً يَوْمَ
الْقِيَامَةِ اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
“Perbuatlah apa yang kamu kehendaki; sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. 41: 40).
Akhirul kalam, Salah satu akhlak yang mulia yang merupakan
bentuk ketaatan seorang muslim dan sebagai salah satu wujud rasa syukur
kepada Allah Ta’ala adalah rasa malu kepada Allah. Allah Ta’ala telah
memberikan segala nikmat yang pasti tak dapat terhitung dan Allah Ta’ala
yang menghilangkan segala hal yang menyulitkan dirinya. Hendaknya
seorang muslim memiliki rasa malu kepada Allah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
اْلإِيْمَانُ
بِضْعٌ وَسَبْعُوْنَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّوْنَ شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا
قَوْلُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ اْلأَذَى عَنِ
الطَّرِيْقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ َاْلإِيْمَانُ
“Iman itu bercabang tujuh puluh lebih atau enam puluh lebih, yang paling utama adalah kalimat la illaha illallah dan yang paling rendah adalah menyingkirkan rintangan dari jalan, dan malu termasuk cabang dari iman.” (HR. Bukhari & Muslim)
Ibnul Qayyim berkata, “Malu berasal dari kata hayaah (hidup), dan ada yang berpendapat bahwa malu berasal dari kata al-hayaa (hujan),
karena hujan merupakan sumber kehidupan bagi bumi, tanaman-tanaman, dan
hewan-hewan ternak. Maka dengan begitu dapat disebutkan bahwa kehidupan
dunia dan kehidupan akhirat dinamai dengan al-hayaa’. Barang
siapa yang tidak memiliki malu dalam dirinya maka dia adalah mayat di
dunia dan kesengsaraan di akhirat. Adakah “mayat” yang disebut-sebut ini
adalah kita?




