Justru Umat Islam Indonesia Korban Intoleransi !
B eberapa masjid dilempari batu hingga sekarang dan tidak ada tindakan apa-apa. Sejak tahun 1968 warga Muslim Satuan Brigade Mobil ...
https://randysofyanshare.blogspot.com/2012/07/justru-umat-islam-indonesia-korban.html
Sejak
tahun 1968 warga Muslim Satuan Brigade Mobil Polda Papua tidak
memiliki tempat ibadah. Padahal jumlah kaum Muslimin Korps Baret Biru
yang beralamat di Jalan Raya Abepura 1, Abepura, tersebut berjumlah
sekitar 70-75 KK.
Berkali-kali,
personel satuan elite kepolisian yang beragama Islam mengusulkan agar
dibangun sebuah masjid, namun tidak pernah digubris. Alhamdulillah, 38
tahun kemudian tepatnya pada 2006, saat mereka dipimpin oleh komandan
satuan yang beragama Islam Kombes Pol Irwanto, harapan mereka
dikabulkan.
Namun
sayang, ketika Polda Papua dijabat oleh Irjen Pol Tomy Yakobus,
pembangunan pun dihentikan. Lantaran Kapolda yang non Muslim itu
mengintruksikan penghentian sementara pembangunan masjid dengan alasan
akan adanya pelebaran dan pembangunan Markas Brimob.
“Entah
berkaitan atau hanya kebetulan Kombes Pol Irwanto pun dimutasi,” ujar
salah seorang nara sumber yang tidak mau disebutkan namanya kepada Media Umat, Kamis (14/6) di Masjid Al Muhajirin Brimobda, Papua.
Sehingga,
masjid yang direncanakan dibangun dua lantai dan baru rampung
pemasangan rangka dan tembok lantai satu tersebut langsung dihentikan
pada April 2007. Hingga sekarang rangka lantai dua dan rangka kubah
tetap dibiarkan hingga berlumut.
Idealnya,
masjid tersebut dibangun dua lantai, lantaran yang beribadah di masjid
ini cukup banyak, bukan hanya yang berada di dalam kompleks saja tetapi
juga warga Muslim sekitar. Tapi alih-alih dilanjutkan kembali
pembangunannya, justru rangka lantai dua akan dirobohkan.
“Sampai
saat ini tidak ada kelanjutan dari info tentang pembangunan kembali,
bahkan ada rencana untuk meratakan lantai dua yang tidak jadi dibangun,
dengan alasan tidak ada biaya,” tambahnya.
Begitulah
nasib minoritas Muslim Papua di tengah-tengah mayoritas non Muslim yang
tidak toleran. Ketika non Muslim yang tidak toleran ini berkuasa, maka
ia melakukan kebijakan yang mengada-ada untuk menghambat pembangunan
masjid.
Dilempari Batu
Intoleransi
terhadap minoritas Muslim dialami juga oleh umat Islam warga Perumahan
Organda, Padang Bulan, Abepura, Jayapura, Papua. Setelah perjuangan yang
panjang dan alot akhirnya mereka mengantongi izin untuk membangun.
Warga Muslim Organda yang berjumlah 60 KK ini pada 2007 akhirnya dapat
membangun masjid.
Namun
demikian, sejak masjid dibangun hingga sekarang teror pelemparan batu
terus dilakukan oleh mereka yang tidak suka dengan pembangunan tempat
ibadah bagi umat Islam ini.
“Pelemparan
itu kadang terjadi saat azan dikumandangkan atau saat pelaksanaan
shalat kadang berturut-turut tiga hari, kadang seminggu sekali, kadang
sebulan sekali,” ujar Ustadz Ahyar, imam dan pengurus Masjid Al Ikhlas
Organda kepada Media Umat, Kamis (14/6) di Masjid Al Ikhlas Organda.
Teror
pelemparan batu pun terjadi di masjid lainnya. Ini dialami di masjid At
Taqwa. Masjid yang dibangun dari tanah wakaf Muhammadiyah Kota Jayapura
ini, mendapatkan izin setelah perdebatan yang cukup alot dengan pemuka
agama non Muslim.
Menurut
Ustadz Mahmud Nuhuyanan, imam dan pengurus Masjid At Taqwa, masjid ini
dibangun sekitar tahun 1982 dan dipakai untuk shalat lima waktu dan
shalat Jumat untuk warga yang berada di sekitarnya.
Namun sejak 2005 hingga sekarang, sering menjadi sasaran pelemparan batu ketika saat azan shalat dikumandangkan.
Di
samping masjid ini, ada tanah yang cukup luas milik Yayasan
Muhammadiyah. Namun ketika akan dibangun pondok pesantren, tokoh-tokoh
masyarakat non Muslim menolaknya.
“Bahkan
rumah seorang sesepuh Muhammadiyah yang tinggal di situ dilempari batu
hingga kaca depan rumahnya hancur,” ujarnya kepada Media Umat, Kamis (14/6) di Masjid At Taqwa.
Akhirnya,
pada 2010 terjadi kesepatan dengan tokoh non Muslim bahwa pesantren
batal didirikan dengan syarat tidak boleh ada lagi pelemparan batu ke
masjid.
Namun
pada 2012, masjid dilempari lagi hingga memecahkan salah satu kaca
pintu. Kejadian -kejadian pelemparan batu telah dilaporkan ke polisi dan
juga ke Korem namun tidak ditanggapi.
Sikap
tidak toleran juga dilakukan non Muslim ke Yayasan Ponpes Al Muttaqin,
Bumi Perkemahan (Buper), Waena, Jayapura, Papua. Pelemparan batu diduga
dilakukan oleh orang yang benci dan tidak suka terhadap pendirian
Ponpes ini.
Bahkan
pada momen hari Paskah, tahun lalu, pihak Gereja Kristen Indonesia
(GKI) yang terdiri dari gabungan unsur Persekutuan Anggota Muda (PAM)
dan Persekutuan Anak dan Remaja (PAR) secara resmi melayangkan surat
agar masjid yang berada di kompleks Ponpes mematikan pengeras suara
azan.
Menurut
Ustadz Yatiman, Pimpinan Yayasan, hubungan yayasan dengan warga sekitar
yang non Muslim baik. “Yang tidak baik hanya dengan elite pendeta,
terutama pendeta dari suku luar Papua yakni Manado dan Jawa yang sering
memprovokasi pendeta asli Papua untuk menolak keberadaan yayasan,”
ungkapnya kepada Media Umat, Kamis (14/6) di Yayasan Al Ponpes Al Muttaqin.
Modus
teror dengan lemparan batu juga menimpa Masjid Nurul Iman, Polimak,
Jayapura. “Hal itu terjadi sejak tahun 1998 hingga tahun kemarin,
bahkan toa untuk azan pun pernah dicuri meski hanya sekali,” ujar Ketua
DKM Masjid Nurul Iman Ustadz Subiakto Bakri kepada Media Umat, Kamis (14/6) di Masjid Nurul Iman.
Intoleransi di NTT
Nasib
serupa dialami pula oleh minoritas Muslim di NTT. Di Kupang, misalnya.
Sejak tahun 1990, pembangunan tempat ibadah untuk warga minoritas Muslim
di Kelurahan Batu Plat Kecamatan Alak selalu dihalangi.
“Walikota Kupang sudah memberikan izin cuman ada
segelintir warga di sekitar yang non Muslim masih mempersoalkan
walaupun surat-surat persayaratan sudah terpenuhi,” ujar Ketua MUI
Kupang Abdul Fatah Ahmad kepada Media Umat, Rabu (13/6) di kediamannya.
Karena
sudah mengantongi izin, pembangunan masjid dimulai. Namun baru saja
dipasang pondasi, menjelang Pemilukada 2008 kondisi jadi tidak kondusif ,
akhirnya pembangunan masjid terhenti.
“Alhamdulillah
Pemilukada selesai, Walikota sudah membolehkan secara lisan,” ujarnya.
Namun pembangunan masjid masih tertunda menunggu kondisi lingkungan
kondusif.
Menurut Abdul Fatah, selain penolakan pembangunan masjid, non Muslim pun melakukan pencopotan pengeras suara azan dan amplifire masjid. “Hal itu terjadi beberapa tahun lalu di Masjid Al Ikhlas, Bonipoi,” ungkapnya.
Intoleransi di Kalteng
Sekretaris
Umum MUI Provinsi Kalimantan Tengah H Syamsuri Yusuf menyatakan
intoleransi terjadi di kantor-kantor instansi pemerintah. ”Di
kantor-kantor instansi pemerintah masih ada yang menolak keberadaan atau
pembangunan mushala,” ujarnya kepada Media Umat, Kamis (14/6) di kediamannya.
Selain
itu toleransi salah yang mengarah pada upaya sinkretisme juga terjadi.
Seperti dalam kasus pembangunan Masjid Raya Darussalam yang di SK-kan
oleh Gubernur Kalimantan Tengah. Dalam SK tersebut dimasukkan pula
orang-orang dari non Muslim. Ada juga seruan untuk melaksanakan buka
puasa bersama di gereja oleh Kepala Kesbanglinmas pada Kamis, 7 Juni
2012. Serta seruan-seruan lain seperti ucapan “Selamat Natal” ataupun
ucapan salam dalam semua agama.[]Joko Prasetyo dari kontributor daerah.




