Perkembangan Ilmuan Islam Pada Masa Daulah Islam
Matematika bangsa Yunani Kuno terbentuk dari bahan-bahan tradisi bangsa-bangsa Sumaria, Babilonia dan Mesir Kuno, demikian pula halnya...
https://randysofyanshare.blogspot.com/2012/06/matematika-bangsa-yunani-kuno-terbentuk.html
Matematika
bangsa Yunani Kuno terbentuk dari bahan-bahan tradisi bangsa-bangsa
Sumaria, Babilonia dan Mesir Kuno, demikian pula halnya Ilmu
Pengetahuan Alam/sains, yang asasnya hanya pada observasi saja. Ilmu
Ukur diperkembang oleh pakar Yunani Kuno secara sistematis, dan
mencapai puncak kemajuannya dalam zaman Euclid.
Namun
dalam bidang matematika yang lain yaitu ilmu hitung, tidak memperolah
kemajuan. Tidak ada pertambahan operasi, tetap hanya menambah,
mengurang, mengali dan membagi saja. Dengan demikian mereka itu hanya
tetap berkisar dalam bilangan rasional saja. Hal ini membawa akibat
yang parah, ilmu hitung tidak dapat mengikuti perkembangan ilmu ukur,
sehingga ilmu ukur itu berjalan sendiri tanpa dukungan ilmu hitung. Ada
beberapa bagian dari Dialogue Plato (427 - 347 SM) yang menunjukkan
pemisahan itu mencapai puncaknya, artinya keduanya sudah terpisah sama
sekali dalam zaman Euclid.
Alhasil
matematika di tangan bangsa Yunani Kuno pecah dua dalam pengertian
yang sebenar-benarnya. Ilmu ukur maju melesat ke depan meninggalkan
ilmu hitung jauh di belakang. Dengan demikian matematika di zaman
Yunani kuno tidak mungkin dapat dipakai untuk menunjang sains/ilmu
pengetahuan alam dalam hal mengujicoba hasil penafsiran alam, sehingga
sains hanya terpaku pada teori yang sifatnya spekulatif. Maka asas
Pendekatan Ilmiyah di zaman Yunani Kuno terhenti hanya sampai
penafsiran saja sebagai tahap lanjut dari observasi.
***
Para
Pakar Muslim kuno di zaman keemasan Islam (abad 7 sampai abad 13
Miladiyah) berhasil memperkembang ilmu ukur menjadi ilmu ukur sudut dan
ilmu ukur bola seperti yang kita kenal sekarang ini. Al Battani (858 -
929) mengganti busur dengan sinus, mempergunakan tangen dan kotangen.
Abu ‘lWafa (940 - 997) mendapatkan metode baru untuk membuat tabel
sinus, memperkenalkan sekan dan kosekan.
Operasi
dalam ilmu hitung diperlengkap dengan operasi akar dan logaritme
sebagai lawan pangkat. Dengan demikian ruang lingkup bilangan menjadi
lebih luas, yaitu bilangan irrasional dan imajiner. Kata-kata logaritme
dan algorism berasal dari nama orang yang mendapatkannya yaitu Al
Khawarismi (780 - 850).
Di
tangan para pakar Muslim itu cabang-cabang matematika yaitu itu ilmu
hitung dan ilmu ukur diperkembang kemudian dijalin menjadi utuh tidak
terlepas seperti dalam keadaannya di tangan para pakar Yunani Kuno
tersebut. Maka menjadilah matematika itu sebagai disiplin ilmu yang
menunjang metode ujicoba dalam sains. Alhasil kebudayaan Islam
(maksudnya kebudayaan yang diisi oleh nilai-nilai non-historis, yaitu
wahyu) dapat menyumbangkan metode ujicoba yang memungkinkan lahirnya
Ilmu Pengetahuan seperti yang kita miliki sekarang ini.
Yang
ideal bagi orang-orang Yunani Kuno adalah keindahan visual. Inilah
yang menjadi landasan ideologi mereka. Keindahan yang berasaskan
perbandingan yang dinyatakan oleh hubungan angka-angka yang tetap. Wajah
manusia, patung, atau bentuk arsitektur, bahkan drama harus mempunyai
perbandingan-perbandingan tetap di antara bagian-bagiannya supaya
indah. Keluar dari hubungan angka-angka perbandingan itu mengakibatkan
sesuatu itu “rusak” bentuknya sehingga tidak menjadi indah lagi. Pola
pemikiran ini menghasilkan pandangan bahwa alam semesta ini merupakan
kesatuan yang statis, oleh karena bagian-bagian dari alam smesta ini
harus mempunyai perbandingan yang dinyatakan oleh hubungan angka-angka
yang tetap. Alhasil, pengertian waktu bukanlah hal yang perlu mendapat
perhatian, oleh karena alam semesta ini statis. Bahkan menurut Zeno dan
Plato waktu adalah sesuatu yang tidak-nyata (unreal). Maka dapatlah
kita mengerti apabila para pakar Yunani Kuno hanya menghasilkan
matematika yang statis sifatnya, tidak mengandung unsur variabel dan
fungsi. Demikianlah idea orang Yunani Kuno yang menganggap ideal
keindahan visual, hanya dapat menghasilkan matematika yang statis.
Yang
ideal bagi seorang Muslim bukanlah keindahan visual, melainkan Yang
Tak Terbatas, yaitu Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan sifat-sifatnya
yang Maha Sempurna. Pakar-pakar Muslim dituntun oleh akar yang non
historis, yakni wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallahu
alaihi wasallam, yaitu Al Quran. Dalam Surat. Al Fathihah Allah disebut
Rabbul’alamien, Maha Pengatur alam semesta. Dengan demikian alam
semesta ini tidak statis, melainkan dinamis. Dan unsur penting dalam
dinamika ialah waktu. Jadi menurut pandangan seorang Muslim waktu itu
riel, tidak seperti pandangan Zeno dan Plato di atas itu. Bahkan dalam
Al Quran ada sebuah surah yang bernama Surat. Al ‘Ashr. Surah ini
dibuka dengan kalimah wa-l’Ashri, yang artinya perhatikanlah waktu.
Masuknya
faktor waktu dalam matematika, mengubah wajah matematika itu menjadi
baru sama sekali. Ilmu hitung diperkembang menjadi aljabar. Unsur ilmu
hitung yang statis yaitu bilangan, diperkaya dengan unsur yang dinamis
yaitu variabel dan fungsi. Dalam matematika ada dua cara dalam
menyatakan fungsi. Pertama yang langsung y(x), yang kedua melalui
parameter waktu x(t), y(t), yang ditampilkan oleh Al Biruni (793 -
1048). Umar Khayyam menciptakan pula sejenis matematika yang disebutnya
dengan al khiyam, sayang ilmu itu tidak berkembang hingga dewasa ini.
Kesimpulannya
dapatlah kita lihat pakar Yunani Kuno tidak mampu mengembangkan
matematika untuk dapat dipakai sebagai disiplin ilmu dalam hal
menunjang metode ujicoba dalam sains.





