Penghancur Agama
S yaikh Abdul Qadir Al Jailani dalam kitab beliau Fathur Rabbani wa Faydhur Rahmani menyatakan bahwa orang yang disebut sebagai Penghan...
https://randysofyanshare.blogspot.com/2012/05/penghancur-agama.html
1. Tidak mengamalkan apa yang diketahuinya
Ketika
seseorang masuk ke dalam agama Islam, dia akan diikat dengan seperangkat
aturan yang disebut syariat. Syariat Islam meliputi berbagai macam
bidang seruan. Ada seruan untuk individu yang meliputi ibadah-ibadah
mahdhah seperti salat (QS. Al Baqarah: 43, QS. Al Hajj: 78), puasa (QS.
Al Baqarah: 183), haji (QS. Ali Imran: 97), dzikir (QS. Al Ahzab: 41),
dakwah, dan sebagainya. Ada juga seruan untuk kelompok masyarakat
seperti melakukan amar makruf nahi munkar, dan yang dikhususkan untuk
negara seperti menegakkan hudud.
Dalam konteks
individu, sebagai seorang muslim kita seringkali menyerukan hal ini itu,
tetapi diri sendiri tidak pernah melakukannya. Dia memerintahkan
bertakwa kepada Allah, tetapi dia sendiri tidak mengerjakan ketakwaan
tersebut. Dia memerintahkan orang salat, berpuasa, berzakat, berhaji,
bersedekah, berdzikir, tetapi dia sendiri tidak pernah melakukannya. Dia
memerintahkan orang lain menjadi seorang pengemban dakwah yang baik,
tetapi dia sendiri menjadi seorang pengemban dakwah yang lemah, baik
fikriyah maupun nafsiyahnya.
Allah telah mengingatkan kita,
“Sungguh besar kebencian Allah karena kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash Shaff: 3)
Jadi, sangat
disayangkan. Banyak orang mengetahui tentang satu ilmu, tetapi dia
menyembunyikannya. Dia mengetahui hukum menegakkan khilafah Islam adalah
wajib, tetapi dia tidak menyampaikan. Banyak orang yang mengharamkan
riba, tetapi dia tidak mau mendakwahkan betapa besarnya dosa riba dan
ketika pemerintah melegalkan riba, dia justru tunduk pada pemerintah
yang ‘menghalalkan’ riba tersebut. Masya Allah..
2. Mengamalkan apa yang tidak diketahui
Banyak sekali
orang-orang yang tidak paham tentang agama, tetapi dia melakukan
amalan-amalan agama ini itu padahal dia sendiri tidak mengetahui status
hukum dari amalannya tersebut. Banyak sekali orang yang menyibukkan diri
dengan berbagai kegiatan peribadatan, bukan berdasarkan dalil tetapi
hanya ‘dirasa-rasa’ saja. Dirasakan kok sepertinya ini berpahala yaa..
kok sepertinya ini islami yaa.. kok sepertinya ini baik yaa… padahal dia
dia menyadari bahwa dirinya awam.
Padahal Rasulullah saw. bersabda,
“Barangsiapa
yang membuat-buat suatu (perkara) baru dalam urusan kami ini, maka
(perkara) tersebut tertolak.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ibnu
Majah, dan Ahmad)
3. Tidak mencari tahu apa yang tidak diketahuinya
Islam itu agama
yang luas. Ilmu Islam begitu banyak melebihi banyaknya buih di lautan.
Ada orang yang mengetahui tentang satu ilmu, tetapi ada yang tidak
mengetahui tentang ilmu yang lain. Bagi yang tidak mengetahui tentang
satu ilmu, hendaknya mencari tahu. Misalnya hukum tentang benda dan
hukum tentang perbuatan-perbuatan. Contohnya adalah kata khilafah dengan
khilafiah atau khilaf. Padahal hakikat ketiganya berbeda. Tetapi, dia
tetap berkutat pada pendiriannya dan tidak berusaha mencari tahu
hakikatnya.
Hukum asal
perbuatan manusia adalah terikat dengan hukum syara’, sedangkan hukum
asal benda adalah mubah selama tidak ada dalil yang mengharamkannya.
Demikian kaidah ushul menjelaskan kepada kita. Jadi, jika tidak
mengetahui tentang satu ilmu, hendaknya kita mencari tahu.
4. Menolak orang yang mengajari apa yang tidak diketahuinya
Sudah menyadari
bahwa diri sendiri tidak mengetahui tentang satu ilmu tersebut, tetapi
jika diberikan penjelasan, dia membantah bahkan terkesan melecehkan.
Sudah dibuatkan Catatan-catatan tentang ‘apa itu khilafah’ dan hukum
menegakkan khilafah tetapi tetap saja tidak mau membaca malah
terus-terusan menyatakan bahwa khilafah itu sama dengan khilaf. Padahal
hakikatnya berbeda.
Demikian pula,
tentang wajibnya diterapkannya syariah Islam. Ketika ditunjukkan
dalil-dalilnya, dia pun menolaknya dan meragukannya. Padahal dia sendiri
tidak memiliki ilmu apa-apa untuk membantahnya. Lantas, dengan apa dia
membantah? Masya Allah…
Ini hanyalah
permisalan. Hendaknya kita tidak menjadi orang-orang yang menghancurkan
agama dengan menjauhi segala perbuatan-perbuatan di atas. Waliyullah
Syaikh Abdul Qadir Al Jailani rahimahullah telah menjelaskan kepada kita
tentag satu hal yang sangat baik, tidak ada yang perlu kita tolak dari
penjelasan ulama’ ini. Subhanallah…
Wallahu a’lam bish shawab




